Lakukan 3 Pencegahan Dini Agar Terhindar Dari Gizi Buruk Pada Balita

Gizi Buruk Pada Balita – Gizi buruk  adalah kondisi tubuh terparah yang mengalami masalah pertambahan berat badan, tinggi badan atau panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan lain-lain, karena tubuh kekurangan gizi dalam kurun waktu yang lama (menahun). Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak.

Gizi buruk pada anak seringkali disebabkan oleh kurangnya asupan makanan bergizi seimbang. Selain itu bisa juga disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu yang menyebabkan terganggunya proses penyerapan zat gizi penting yang diperlukan oleh tubuh. Gizi Buruk dalam istilah medis disebut sebagai Malnutrisi Energi Protein (MEP) Berat. MEP itu sendiri ada dua macam yaitu MEP ringan (kurang gizi) dan MEP  berat (gizi buruk).

Pada MEP ringan anak belum menunjukkan gejala klinis yang khas. Anak yang mengalami gizi kurang hanya terlihat kurus dan gangguan pertumbuhan. Sedangkan MEP berat, anak sudah memiliki gejala-gejala klinis yang khas beserta gangguan biokimiawi dalam tubuh. Gizi buruk dikenal juga dengan sebutan Busung Lapar yang memiliki tiga bentuk klinis, yaitu Marasmus, Kwashiorkor, dan Marasmus-Kwashiorkor. Bentuk gizi buruk lainnya adalah stunting atau pendek.

Anak yang mengalami gizi buruk memiliki resiko meninggal 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal.  Menurut WHO, sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena keadaan gizi buruk pada anak.

Macam-macam Gizi Buruk

Gizi Buruk Pada Balita

Penting bagi anda mengetahui informasi mengenai macam-macam gizi buruk. Hal ini dapat mencegah terjadinya gizi buruk yang bisa saja terjadi pada orang-orang sekitar anda. Penuhi asupan nutrisi dan gizi anggota keluarga anda selalu agar tidak terkena gizi buruk.

  1. Marasmus

Salah satu bentuk kekurangan gizi buruk yang sering dialami oleh balita karena kurangnya konsumsi energi disebut Marasmus. Penyebabnya pun beragam, seperti kurang makan, mengalami infeksi di tubuhnya, bawaan lahir, lahir prematur, serta faktor lingkungan.

Kulit tubuh yang longgar hingga hanya terlihat seperti tulang yang terbungkus kulit saja, berat badan kurang dari 60 persen sesuai dengan usianya dan suhu tubuh yang rendah,  wajah anak akan terlihat lebih tua dan mengalami diare kronik atau susah buang air kecil, merupakan ciri-ciri umum anak yang mengalami Marasmus. Kondisi ini biasanya dialami oleh anak usia 0-2 tahun.

  1. Kwashiorkor

Nama lain dari Kwashiorkor adalah Busung Lapar. Edema atau bengkak pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk, merupakan ciri khas penderita Kwashiorkor. Apabila bengkak itu ditekan akan meninggalkan bekas seperti lubang.  Keadaan ini diakibatkan karena kurangnya konsumsi protein.

Selain mengalami edema, ciri lain anak penderita Kwashiorkor antara lain, wajah yang bulat dan sembab (moon face), timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan mengelupas, tidak memiliki nafsu makan, rambut menipis dan berwarna merah seperti rambut jagung serta mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit, perbandingan berat badan dan umurnya di bawah 60 persen.

  1. Marasmus – Kwashiorkor

Balita yang mengalami Marasmus-Kwashiorkor berada pada kondisi yang sangat buruk. Dampak kondisi ini bagi anak adalah penurunan tingkat kecerdasan, rabun senja, dan anak lebih rentan terkena penyakit infeksi.

Pemberian makanan yang bergizi berupa sayur mayur, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, kentang, dan jagung serta makanan yang mengandung protein seperti telur, ikan dan daging, dapat mencegah kondisi ini.

  1. Stunting atau Pendek

Anak yang mengalami kelambatan tinggi badan, sehingga memiliki postur lebih pendek bahkan sangat pendek bila dibandingkan dengan anak-anak seusianya dinamakan mengalami stunting. Hal ini terjadi akibat kekurangan gizi dan penyakit berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Anak dengan stunting memiliki IQ 5-10 poin lebih rendah dibanding dengan anak yang normal.

Penyebab Gizi Buruk Pada Balita

Gizi Buruk Pada Balita

Pada umumnya penyebab seorang balita terkena gizi buruk sangat sepele. Biasanya dikarenakan orang tua yang kurang memperhatikan anaknya atau mungkin bekal pengetahuan tentang gizi buruk yang sedikit. Berikut ini adalah beragam penyebab gizi buruk pada balita :

  1. Faktor Ekonomi

Minimnya pendapatan seorang kepala keluarga, sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. Sehingga tidak sedikit ibu atau pihak keluarga yang lebih mengutamakan membeli makan seadanya, yang penting makan, tanpa memperhatikan gizi.

  1. Minimnya Informasi

Kekurangtahuan seorang ibu atau anggota keluarga lainnya mengenai gizi dan akibat kekurangan gizi, menyebabkan kurang pedulinya dalam upaya pencegahan gizi buruk pada balita. Maka pemerintah telah menggalakkan Posyandu sebagai benteng pertama memperoleh informasi seputar balita, ibu hamil dan manula.

  1. Jarak Kelahiran yang Terlalu Berdekatan

Sangat dimaklumi jika seorang ibu yang sedang hamil lagi saat anaknya yang lain masih kecil, bahkan menyusui, sehingga kesempatan untuk memperhatikan asupan gizi saat hamil dan menyusui menjadi terabaikan. Oleh karena itu, sangatlah penting mengatur jarak kehamilan agar memiliki waktu yang cukup untuk memperhatikan asupan gizi calon bayi dan anak yang lain.

  1. Menyukai Makanan Tertentu Secara Berlebihan

Kesukaan pada makanan tertentu secara berlebihan menyebabkan asupan makanan kurang bervariasi, sehingga bisa menimbulkan kekurangan gizi.

Pencegahan Gizi Buruk Pada Balita

Gizi Buruk Pada Balita

Gizi buruk merupakan hal yang sangat tidak diinginkan oleh setiap keluarga. Karena bagaimanapun juga tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya mengalami gizi buruk. Maka dari itu sebelum keluarga kesayangan anda terkena gizi buruk, lakukan pencegahan dengan tips berikut ini.

  1. Pemberian ASI Eksklusif

ASI adalah anugerah Ilahi yang diperuntukkan bagi bayi 0 – 2 tahun melalui ibu. ASI sangat baik diberikan pada bayi yang baru lahir. Karena ASI yang pertama keluar dari puting mengandung kekebalan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak. ASI juga mengandung gizi sempurna, sangat baik untuk perkembangan dan kecerdasan anak. Kebaikan ASI tak dapat disangkal lagi, bahkan sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk menguatkan manfaat ASI.

  1. Pemberian Makanan Gizi Seimbang

Pemberian makanan gizi seimbang harus mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.

  1. Penimbangan Berat Badan Secara Berkala

Penimbangan berat badan secara berkala dapat meminimalisir terjadinya gizi buruk pada balita. Penimbangan berat badan bisa dilakukan di Posyandu, Puskesmas ataupun Rumah Sakit. Dengan penimbangan secara berkala, dapat diketahui perkembangan fisik anak. Jika diketahui adanya gejala gizi buruk pada grafik di KMS ( Kartu Menuju Sehat ), maka perugas pencatat bisa melakukan upaya penanganan lebih dini.

Dengan mengetahui macam-macam gizi buruk pada balita, penyebab dan cara mencegahnya, kita bisa melakukan upaya penanganan dan pencegahan Gizi Buruk Pada Balita lebih dini. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dan orang-orang sekitar anda.

Leave a Comment