Hikmah Hidup : Ketika Allah Menolong Saya

Ini kisah nyata, sudah lama, bahkan saking lamanya saya sudah lupa detil tempat dan waktu kejadian saat kisah ini saya dapatkan pertama kalinya dari guru saya Ust. Uyad al-Bantani tahun 2016.

Di tahun 2010, di Jakarta, ada seorang tukang ojek pangkalan (saat itu Go-Jek baru berdiri dan belum ramai seperti sekarang).

Sebut saja namanya pak Mahmud, bersama 1 istri dan 2 anaknya beliau ngontak sebuah kamar ukuran 3×4 m dengan biaya 300 ribu perbulan.

Ketika itu, hari Minggu, tidak seperti biasanya, si Ibu pemilik kontrakan datang menyuruhnya untuk keluar dari kos2an paling lambat sore hari itu juga, karena pak Mahmud sudah 10 bulan belum membayar sewa kontrakan.

Sebagai tukang ojek, pendapatannya tidaklah menentu, dan sebenarnya menunggak adalah hal yang sdh biasa dilakukan (terkadang dalam 3 bulan sekali bahkan sampai 5 bulan sekali dia baru membayar kontrakan), namun ibu kost selalu berbaik hati dengan keadaannya.

Entah mengapa, dihari malang itu, nasibnya seakan-akan telah ditentukan oleh si Ibu kost, karena tunggakannya dianggap sudah melebihi batas kewajaran.

“Kalo tidak ada bayaran juga sore ini, saya mohon maaf, bapak harus keluar, karena ini sudah 10 bulan, terlalu lama pak, dan saya juga sudah ada yang mau masuk untuk menggantikan bapak”. Pesan ibu kost di pagi buta.

Hari itu, pak Mahmud menyimpan berlapis kegelisahan, karena ternyata, bukan hanya biaya kost2an saja yang menunggak, namun biaya sekolah 2 anaknya juga sudah 2 bulan belum dibayar, dan besoknya (Senin) si kakak dan adiknya tidak diizinkan masuk sekolah jika tidak juga datang membawa iuran. Ditotal, pak Mahmud harus mengantongi sebesar minimal 4 jt hari itu juga; 3 jt untuk biaya kost, dan 1 jt untuk bayaran 2 bulan sekolah 2 anaknya.

Beratnya beban tidak mengurangi semangatnya berikhtiar, dia tetap berangkat ke pangkalan ojek seperti biasanya, setiba di pangkalan didapatnya antrian nomor 20.

Hari Minggu, penumpang sepi, masuk gilirannya, dia dapat penumpang dengan jarak bayaran ojek 10 ribu, ketika penumpang naik, tiba2 terdengar azan zuhur, spontan dia batalkan dan mengalihkan penumpang ke teman pengojek nomor berikutnya.

“Eh gila, serius lu, lu kate dari pagi lu belon sarapan, ini hari Minggu, sepi, ntar kalo lu antri lagi sore juga belum tentu dapet, mau makan apa lu hari ini?”. Saran temannya.

“Gpp deh, buat lu aja, hitung2 sedekah gw, gw mau sholat dulu pokoknya”. Jawab pak Mahmud.

Zuhur usai, dan dia adalah jemaah terakhir yang keluar dari masjid. Saat hendak memakai sepatu ditangga masjid, disampingnya telah duduk seorang bapak yang sedang membaca iklan koran lalu bertanya, “maaf pak, mau tanya, bapak tau alamat rumah yang ada di iklan ini?” Sambil menyodorkan koran ke pak Mahmud. Ternyata si bapak ini sedang mencari rumah untuk dibeli.

“Owh insyaallah saya tau pak, dekat dari sini kok, kebetulan saya juga tukang ojek, kalo bapak mau bisa saya antarkan.” Jawab pak Mahmud.

“Berapa biaya kesananya pak?”. “Terserah bapak aja deh, seikhlasnya aja.” Berangkatlah mereka berdua menuju alamat yang ada di koran.

Setibanya dialamat yang dicari. “Tunggu sebentar ya pak, tadi saya sudah hubungi no yang di koran, saya mau masuk dulu ketemu langsung sama yang punya rumah”. Pinta si penumpang. “Owh ya pak, silahkan”, Jawab pak Mahmud. “Ini buat ongkos ojek dari masjid kemari ya pak”. Sambil memberikan uang kepada pak Mahmud. Berapa?. 100 ribu rupiah !!.

“Masya Allah pak, kok banyak sekali” tanya pak Mahmud. “Gpp pak, hitung2 sedekah saya”. Jawab si penumpang.

“Masya Allah, makasih banyak pak, kalo gitu saya izin ke warung ya pak, mau makan dulu sebentar”. “Owh iya pak gpp, silahkan.” Pak Mahmud ke warung, dan si penumpang masuk kedalam rumah.

Siang itu, saking laparnya karena sedari pagi belum makan, dia menghabiskan 2 porsi, 10 ribu harga per porsinya, lalu dia bungkus 3 porsi lagi untuk istri dan 2 anaknya. Totalnya habis 50 ribu, dan tersisa ditangan 50 ribu.

Sesaat setelah makan, tiba2 datang seorang anak kecil membawa uang 5 ribu dan memesan 5 butir telur ditambah dengan kuah gulai yang banyak.

Heran dengan pesanan si anak kecil, Pak Mahmud lalu bertanya, setelah ngobrol ternyata anak kecil ini adalah anak yatim, dia tinggal bersama ibu dan 4 org kakaknya. Dan untuk menghidupi keluarga, ibunya bekerja sebagai tukang cuci dan setrika.

Terharu dengan cerita si anak, pak Mahmud lalu mengeluarkan uang 50 ribu sisa makannya tadi dan memberikan nya ke pemilik warung “bu, ini 50 ribu habisin semuanya bungkus untuk dia ya”. Si anakpun berlalu dengan riang karena mendapat makanan yang banyak.

Selesai makan, pak Mahmud kembali kedepan rumah yang akan dibeli oleh penumpangnya. Tak lama, si Bapak penumpang pun keluar. “Saya udah ketemu sama yang punya rumah, tapi sayang, istri saya gak cocok, kira2 bapak tau gak tempat lainnya”. Tanya si bapak.

“Ada pak, tapi ini kawasan elit, di pondok indah, kalo bapak mau, saya bisa antar kesana”. “Bolehlah, kita coba cari2 disitu dulu”.

Berangkatlah mereka berdua menuju ke pondok indah, tidak lama berkeliling dikawasan itu, didapati rumah mewah yang depannya terpasang spanduk ‘dijual’.

“Pak, saya coba masuk dulu ya, bapak menunggu lagi gpp ya”. Pinta si bapak penumpang. “Owh iya gpp pak, kebetulan sudah masuk ashar juga, saya izin sholat dulu ke masjid boleh?!”. “Owh iya pak, gpp, silahkan, kebetulan saya musafir, jadi sy sudah sholat jamak tadi.”

Ashar selesai, pak Mahmud pun standby, tidak berapa lama, si bapak penumpang tadi keluar dengan wajah berseri “Alhamdulillah pak, insyaallah kami jadi beli rumah ini, istri sy pun setuju, saya sudah kasih tanda jadi tadi, sekarang hantarkan saya balik ke hotel ya pak”. Sambil ngobrol di jalan, ternyata si bapak penumpang mendapat tugas baru di Jakarta, dan dia sedang mempersiapkan kepindahan keluarganya.

Setibanya di hotel, “Alhamdulillah, saya nginep disini pak, owh ya, boleh minta no hp bapak? manatau besok-besok kalo ada perlu bisa minta tolong bapak lagi kan?!”. “Owh iya, boleh2 pak, ini nomornya”. Jawab pak Mahmud.

Setelah menyimpan no hp, si bapak penumpangpun pamitan “pak, ini ongkos ojeknya dari pondok indah tadi sampai hotel, kurang lebihnya saya mohon maaf ya, saya juga terima kasih sama bapak udah mau nganterin saya sampe sore”. Kata si bapak penumpang sambil menyalami pak Mahmud dengan segepuk uang, berapa? 5 juta rupiah !!.

Saking senangnya, sepanjang perjalanan pulang, tak hentinya pak Mahmud menangis, tidak disangkanya hari itu menjadi hari yang paling berbahagia yang dia rasakan. Anak istrinya pun ikut menangis ketika mendengar cerita sang ayah, hari itu, satu keluarga larut dalam tangisan bahagia.

Allah Maha Mengerti kebutuhan pak Mahmud si tukang ojek pangkalan. Allah membuktikan janjinya dengan membalas kontan setiap sedekah pak Mahmud di hari itu.

Sedekah pertama kepada teman ojeknya sebesar 10 ribu, dibalasNya 10 kali lipat menjadi 100 ribu, sedekah keduanya 50 ribu kepada si anak kecil dibalasNya lagi 100 kali lipat menjadi 5 jt.

Baarakallah Fiik

Oleh : Rahmat Surya

Leave a Comment