Hikmah Hidup : Rezeki Dan Kemampuan Penyederhanaan Emosi

Semalam, sekitar jam 22.00 WIB, saya sedang antri BBM di sebuah SPBU. Antriannya tidak panjang, cuma ada satu mobil di depan saya. Giliran mobil saya diisi BBM, tiba-tiba ada motor nyelonong ke samping mobil saya dan bahkan motornya ditempatkan lebih maju ke depan di dari posisi parkir mobil saya, pertanda si pengendara motor minta didahulukan pengisian BBM-nya walaupun dia datang lebih akhir. Motornya terdengar berisik seperti gerobak tanda mur dan baut motornya banyak yang tidak sinergis. Ya motor ompong kurang modal perawatan.

Tahu ada orang nyelonong antrian, saya langsung komentar, “Loh. Loh. Loh. Kok nyerobot?” Lalu dengan halus dia meminta pada saya untuk didahulukan pengisian BBM-nya.

Saya amati dia tidak ada keadaan mendesak dimana dia darurat untuk didahulukan pengisian BBM-nya. Kecuali menangkap wajahnya yang kusam dan tampak kelelahan. Sepertinya dia buruh pabrik kayu lapis yang ada di seberang SPBU.

Dan saat itu saya membatin, “Ini dia mental kere. Menjaga kode etik antri saja tidak bisa.”

Pikiran saya langsung memutuskan untuk mengambil sikap tegas, “Tidak,” menolak permintaannya didahulukan isi BBM.

Begitu dengar jawaban tegas saya, dia langsung tarik gas motor ompongnya, batal mengisi BBM di SPBU tersebut. Para karyawan SPBU yang melihat kejadian tersebut langsung tertawa tipis semua sambil geleng kepala.

Saat itu saya komentar pada sopir saya, “Itu amati. Wajahnya kusam. Jam 10 malam begini, dia baru pulang kerja. Dari siang hingga malam begini dia mengejar rezeki, tetapi saya kira dia masih tergolong miskin, dilihat dari motornya saja ompong sana-sini, tanda tidak punya biaya merawat motor. Kamu lihat saja, orang yang berezeki ruwet seperti dia ternyata itu tarikan mentalnya sendiri. Nuraninya digunakan memahami etika antri BBM saja tumpul, dikecewakan sedikit dengan ditolak permintaan kepentingannya langsung ngambek. Jadi ya rezeki ruwet atau harmoni, itu masalah emosi di dalam diri,” terang saya pada sopir.

Sopir mengangguk, lantas jawab, “Nggih, Gus.”

Saya menyaksikan sendiri bagaimana keadaan finansial orang tua kandung saya hingga saat ini. Di saat mereka telah sepuh, rezeki mereka justru makin membaik, padahal kapasitas produktifitas mereka sudah berkurang 90%.

Kebetulan ayah saya seorang kyai tokoh agama, sehingga makin sepuh, penghormatan masyarakat pada beliau makin meninggi. Karena dihormati dan disepuhkan, tentu saja rezekinya mengikuti.

Namun bersamaan dengan itu, saya mengamati pengolahan emosi dari ayah dan ibu saya juga makin membaik, jauh berbeda dulu saat saya masih kanak-kanak, saat beliau berdua masih produktif.

Makin sepuh, ayah dan ibu makin sederhana sekali dalam menghadapi ketidaknyamanan hati. Kontrol emosi terlihat sangat baik. Menghadapi cucu, cicit, anak-anak, menantu, tetangga sekitar, dan lain-lain ayah dan ibu makin terasah dalam mengelola emosi. Makin mudah berempati, mudah memaklumi, mudah mengalah, mudah memaafkan, mudah tersenyum, ringan hati, dan seterusnya.

Di sini sangat nyata, makin emosi sederhana, rezeki makin mengalir baik. Jika rezeki hanya diukur dari management produksi kerja, makin tua seharusnya rezeki makin menyempit, tetapi orang tua saya justru makin mengalir baik rezekinya.

Titik emosi Anda jelas sekali memengaruhi signifikasi rezeki yang mengalir pada Anda, sebab alam semesta ini satu kesatuan partikel dan energi, ketika di angkasa sana matahari mengalami gerhana, di dasar bumi terbawah, lempeng bumi mengalami pergeseran sehingga gerhana matahari memicu terjadi gempa bumi, air laut jadi pasang sehingga memicu Tsunami, bahkan telor terancam gagal menetas karena terjadi ketidakstabilan suhu.

Apa yang menghubungkan matahari di angkasa dengan lempeng di dasar bumi? Itu semua terjadi karena alam semesta ini “satu tubuh, satu ruh”. Maka ini emosi Anda terhubung langsung dengan aliran rezeki Anda. Beda sekali bukan, rezeki si pengendara motor pengantri BBM yang masih produktif kerja dengan rezeki orang tua saya yang sudah non produktif?

Segala hal di alam semesta ini tidak pernah bisa mencapai sempurna jika belum di titik “sederhana”, sebab alam semesta ini memang terbangun dari pola kesederhanaan.

Saya pernah menjelaskan, Anda takjub dengan keindahan karya sastra? Tapi pernahkah terpikir jika keindahan tersebut ternyata berasal dari 26 huruf abjad yang saling berkomunikasi dengan cara tertentu yang menghasilkan sebuah karya sastra.

Anda sangat kesal dengan kerumitan yang terdapat pada matematika? Tapi pernahkah Anda berpikir jika kerumitan tersebut disebabkan oleh sembilan angka yang saling berkomunikasi dengan operasi-operasi dan sifat-sifat tertentu sehingga menjadi simbol-simbol yang sangat kompleks.

Anda begitu heran oleh kecanggihan komputer? Tapi pernahkah Anda berpikir jika kecanggihan komputer disebabkan oleh dua bilangan biner; 0 dan 1 yang saling berkomunikasi dengan algoritma-algoritma tertentu.

Anda merenung dalam, betapa milyaran jenis dan tumbuhan beragam di muka bumi? Tahukah Anda, mereka semua terbentuk hanya dari tanah.

Anda bergeleng kepala, begitu beragam isi semesta alam, dari yang fisika, metafisika, astral, magis, spiritual, emosional? Tapi tahukah Anda, itu semua akumulasi susunan tanah, air, api, dan angin.

Dari kesederhanaan pola kehidupan ini tersusun.

Maka tanda Anda yang belum kembali ke hidup asal, Anda masih berpola wah. Menyusun kata wah. Merencana hidup wah. Memoles wajah wah. Berpakaian wah. Memprogram organisasi dan lembaga wah. Berpikir wah. Dan seterusnya.

Sehingga tanda seseorang belum menerima hidup seutuhnya, ia masih berlawanan dengan gravitas sederhana.

Jika hidup belum bisa menerima hidup seutuhnya, bagaimana ia tenteram? Bisa jadi ia ikan Bandeng hidup di laut asin.

Albert Einsten berkata, “Jika Anda tidak dapat menjelaskan suatu hal secara sederhana, berarti Anda belum memahaminya dengan baik.”

Sederhana dalam emosi ternyata itu titik harmoni rezeki. Kontrol baik-baik emosi Anda pada istri atau suami, pada anak-anak, pada keluarga, pada teman, dan pada seluruh isi alam semesta, karena pergerakan emosi itu pergerakan realita rezeki Anda.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata dalam salah satu khutbahnya tentang karakter orang-orang bertakwa,

نُزِّلَتْ أَنْفُسُهُمْ مِنْهُمْ فِي الْبَلاَءِ كَالَّتِي نُزِّلَتْ فِي الرَّخَاءِ

“Jiwa mereka tetap tenang ketika diuji dengan kesusahan sebagaimana jiwa mereka tenang di waktu senang.”

Artinya salah satu karakter takwa ialah kemampuan menyederhanakan emosi, yakni “tetap tenang ketika diuji dengan kesusahan sebagaimana jiwa mereka tenang di waktu senang.”

Setiap yang bertakwa dijanjikan,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3).

Leave a Comment