Hikmah Hidup : Tentang Rezeki Yang Halal

Saya sering mengingatkan peserta seminar tentang rezeki yang halal. Ya, rezeki yang halal.

“Sesiapa yang mengusahakan barang yang halal untuk keluarganya, ibaratnya ia seorang pejuang di jalan Allah. Dan sesiapa yang mencari dunia yang halal dengan menjaga diri dari sesuatu yang tak berguna, maka ia menduduki derajat seorang syuhada,” pesan Nabi Muhammad suatu ketika.

“Sesiapa yang menyantap makanan yang halal selama empat puluh hari, niscaya Allah akan menyinari hatinya dan akan memancarkan hikmah dari hatinya ke lisannya,” pesan Nabi Muhammad di kesempatan berbeda.

Ternyata, sesuatu yang halal itu membawa berbagai manfaat. Masya Allah! Bukan saja diganjar surga, melainkan juga diberi ilmu, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Kesehatan? Itu pasti.

Saad bin Abi Waqqash, sahabat kesayangan Nabi Muhammad dan kesayangan Usman bin Affan, pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat berharga, “Bagaimana caranya agar doaku lebih dikabulkan?”

Menariknya, Nabi tidak mengajarkan Saad zikir atau amal tertentu. Sama sekali tidak. Nabi malah menjawab sesuatu yang berbeda. Lantas, apa jawaban Nabi? “Jaga makananmu.”

Perlu ditegaskan di sini, penafkahan yang abu-abu atau ragu-ragu, abaikan saja.

Begitulah, rezeki yang halal adalah suatu keharusan, tak bisa ditawar-tawar. Ini harus kita perjuangkan. Apapun posisi kita, apapun profesi kita. Entah karyawan, entah pengusaha. Anda setuju? Sekian dari saya, Ippho Santosa. Semoga berkah berlimpah.

Leave a Comment