Bab 5 : Hadiah Besar Buat Red Ocean Warrior Sejati

Semenjak Blue Ocean Strategy nya Chan Kim dan Renee Mauborgne semakin populer, semua strategi bisnis produk or Brand yang mau muncul dipasar seolah-olah diarahkan untuk memposisikan diri sebagai Blue Ocean Mode. Seolah-olah ketika seseorang ingin memulai BISNIS JAMAN NOW, untuk mempertinggi probabilitas kesuksesannya, Blue Ocean adalah seperti menjadi rumus WAJIB.

Singkatnya Blue Ocean Strategy itu kaya gini, Kita diarahkan untuk menciptakan Produk atau Brand dengan value proposition yang unik, sehingga menemukan ceruk marketnya sendiri. Alih-alih bertarung Head to Head dengan para penguasa pasar ‘incumbent’, Blue Ocean strategy memilih menciptakan gelanggang mereka sendiri atau ‘uncontested market’ dimana disitu tidak akan ada persaingan, perkelahian dan pertumpahan darah seperti di gelanggang READ OCEAN. Inilah yang mereka maksud “Make the competition irrelevant”, karena masing-masing punya gelanggangnya sendiri.

Bab Selanjutnya : Problem Engagement Strategy – Mindset Wajib Untuk Merubah Paint Point Menjadi Digital Opportunity

Ini adalah strategi yang SANGAT LUAR BIASA jika diterapkan pada SITUASI YANG TEPAT. Looh.. berarti strategi ini tidak bisa sembarangan diterapkan dong? Kalo kata KIDS Jaman NOW… DEFINITELY, YES.
Ada batasan-batasan yang semestinya sudah didefinisikan secara jelas ketika sebuah bisnis mau mengeksekusi sebuah strategi.

Sebagaimana seorang pilot yang harus mendapatkan data dengan detail dan akurat tentang bentangan awan yang ada dihadapannya.
Sebelum benar-benar mendekati awan tersebut ia harus bisa memutuskan, apakah melewatinya dengan santai, melewati dengan konsekuensi guncangan-guncangan yg tetap bisa dikendalikan, atau mengarahkan pesawat untuk menghindari awan tersebut jika menurut hasil analisis sama sekali tidak memungkinkan menghempaskan pesawat menembus awan tersebut. Seperti awan Cumulonimbus (Cb) maupun Lenticular yang banyak memakan korban dalam dunia penerbangan.

Seorang pilot tidak bisa langsung mengambil jalan memutar, menghindari resiko untuk menghindari awan tanpa melakukan analisa terlebih dahulu terhadap awan yang akan mereka hadapi.
Kenapa ga boleh? Kan bagus dong, lebih aman menghindari semua resiko.

Sebuah institusi bisnis ada satu hal yang membatasi ruang geraknya. Apa itu? RESOURCES atau sumber daya. Dan efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan resources inilah yang akan menentukan bisnis ini akan PROFITABLE atau tidak.
Kalau pilot selalu mengambil jalan memutar ketika berpapasan dengan awan tebal, memang sih mereka tidak akan menemukan kendala dalam flight. Tapi ia membuang-buang banyak resources. Pertama bahan bakar jelas kebuang. Kedua yang kedua WAKTU.

Gampangnya seperti ini, misal Anda mau pergi ke kampung sebelah yang lewat jalan normal cuman 1 kilometer. Ternyata di jalur itu ada kawanan tukang palak yang selalu minta duit sama orang yang lewat. Jika Anda murni menjalankan Blue Ocean dan menghindari konflik dengan pemalak, Anda bisa ambil jalan rute aman bebas palak tapi dengan konsekuensi Anda ambil jalan memutar sejauh 5 kilometer.

Dan setelah beberapa kali melalui jalan memutar Anda ternyata baru dapat info bahwa kawanan pemalak tadi ternyata masih anak-anak SD. Sedangkan Anda sendiri sudah punya anak-anak SD.. he he.. Nyesel ndak kira-kira ambil jalan muter sejauh 5 kilo hanya karena pemalak yg ternyata masih ingusan tadi. He he..

Jangan pernah berpikir bahwa strategi Blue Ocean adalah sebuah strategi yg semudah tertulis di atas kertas. Dalam teori segmentasi pasar ada parameter yang namanya Points of Parity (POPs) atau seberapa mirip produk kita dengan yang sudah ada di pasar, dan Points of Difference (PODs) atau seberapa beda produk kita dengan yang ada di pasar. Semakin tinggi POPs artinya produk Anda RED OCEAN banget. Sebaliknya semakin tinggi PODs maka produk Anda semakin unik dan beda dengan yang Anda di pasar.

POPs tinggi memang beresiko akan ada baku hantam dengan pelaku pasar eksisting. Namun ada keuntungan yang luar biasa jika Anda mampu menang duel lawan kompetitor. Keuntungan terbesar adalah tingginya POPs artinya tipikal barang Anda sudah sangat dihafal pasar. Anda tidak perlu bikin produk awareness dan edukasi pasar mulai dari nol. Dengan kata lain kategori produk yg Anda garap sudah masuk ke fase EARLY MAJORITY dimana barang sudah mainstream.

Jika sebuah produk baru dengan PODs tinggi alias sangat nyeleneh, ketika ia ingin masuk ke pasar ada beberapa fase yang harus ia lewati sebelum menjadi mainstream. Pertama fase Innovators, kemudian fase Early Adopters baru bisa masuk ke fase mainstream yakni Early Majority dan Late Majority. Dan hambatan terbesarnya adalah membawa produk menyeberang dari Early Adopters ke Early Majority. Diantaranya terhampar “Chasm” atau jurang yang menganga dimana bisnis dengan produk-produk baru terperosok didalamnya.

Jadi sebenarnya dengan menggunakan analogi pemalak anak SD tadi, ketika Anda memutuskan mengambil jalan memutar tadi Anda tidak sepenuhnya aman, ada lubang menganga di jalan lain yang siap menjerumuskan Anda jika Anda tidak mengantisipasinya. Ada JEMBATAN (BRIDGE) yang bisa Anda gunakan untuk menyeberangi jurang or lubang tadi. Namanya MARKETING. Hanya marketing yang kuat mampu menyeberangkan Anda dengan selamat dari fase EARLY ADOPTERS ke EARLY MAJORITY dengan mulus. Dan mestinya Anda bisa kalkulasi di awal, biaya Anda berantem dengan pemalak tadi dengan biaya bikin jembatan.

Jika ternyata pengorbanan yang Anda keluarkan untuk jalan memutar dan bikin JEMBATAN jauuuuh lebih besar daripada berantem sama pemalak tadi, ini artinya Anda sudah membuat kesalahan perhitungan bisnis yang amat fatal.

Ini sebenarnya yang mendasari kenapa dulu Gmail lebih memilih bertarung secara RED OCEAN dengan Yahoo dengan Ymail nya. Meskipun Ymail sudah masuk pasar lebih awal (8 Oktober 1997), Google tidak gentar untuk menantang incumbent meskipun baru masuk 7 tahun kemudian dengan versi Beta nya.

Gmail bukanlah produk baru yang menawarkan email nyeleneh apalah-apalah dibanding tipikal email pada umumnya. Namun skema penawaran yang diajukan Gmail jelas jauh lebih menggiurkan dan menganak-SD kan si Ymail. Gmail mengajak si Ymail untuk perang storage.

Bayangkan, Ymail saat itu masih keukeuh dengan storage 200 MB harus dihantam dengan offering 10x lipat storage nya si Ymail alias 2 GB. Dan menariknya itu ditawarkan secara FREE alias gratis tis.

Apakah Google dengan penawaran gila nya saat itu mengorbankan segala-galanya untuk mengkebiri si Yahoo. Tidak juga sih.. Google lebih jeli melihat statistik aja. Meskipun ia menawarkan kapasitas 2 GB, namun statistik penggunaan email saat itu, ditambah dengan keterbatasan kecepatan internet pada masa itu juga gak jauh-jauh dari 200 GB. Jadi meskipun ia offer kapasitas 2GB, tapi yang kepake juga paling banter ndak lebih dari sepersepuluhnya. Namun secara psikologis.. apa yang dilakukan Google jelas lebih murah hati ketimbang si Yahoo.

Coba bayangkan jika saat itu Google lebih memilih bertarung secara BLUE OCEAN dan memilih memainkan jenis email lain misal VoiceMail atau VideoMail yang jelas-jelas beda dengan tipe email yang ditawarkan Yahoo. Belum tentu Gmail akan se sukses sekarang.
Dengan menawarkan tipe layanan yang serupa dengan Yahoo, Google tidak perlu banyak effort untuk mengedukasi pasar.
Ia cukup bilang aja ke pasar… “Ehhmmm…Layanan ku sama kaya si Yahoo koq.. cuman..kapasitasnya aja yang jauuuuhhh lebih besar.”

Kejelian Google mengukur dan menganalisa kekuatan lawan membuatnya tidak perlu mengambil jalan memutar.

Keputusan RED OCEAN STRATEGY yang mereka ambil saat itu adalah sebuah strategi bisnis yang sangat brilian yang pernah dicatat sejarah.

Tulisan ini janganlah disalah artikan untuk mendiskreditkan BLUE OCEAN STRATEGY dan mengagungkan RED OCEAN, sama sekali tidak.
Pada banyak kasus, ketika hegemoni incumbent terlalu kuat, ketika menurut perhitungan Anda tidak sanggup menghadapi pertempuran berdarah, maka BLUE OCEAN adalah opsi yang paling rasional.

Ini hanyalah sedikit pengingat bagi kita, bahwa ada analisa-analisa yang harus kita lakukan di depan yang membantu kita merumuskan strategi.
Setiap strategi ada konsekuensi yang harus kita bayar. Dan janganlah terlalu sering membayar untuk sesuatu yang mestinya tidak perlu hanya karena kekurang bijakan kita memahami situasi kapan sebuah strategi dipilih dan dieksekusi. Bagaimanapun juga efektifitas dan efisiensi penggunaan resource atau sumber daya yang kita miliki untuk mencapai goal sebuah bisnis adalah sebuah prioritas.

Saya selalu menegaskan pada klien-klien Saya.. benar atau tidaknya strategi yang kita ambil, sangat ditentukan seberapa detail kita dalam melakukan SITUATION ANALYSIS. Kealpaan kita mengidentifikasi lubang-lubang dalam analisa kita akan berujung pada persepsi yang salah pada keadaan bisnis kita.

Pada ujungnya tidak ada satu strategi yang sifatnya SILVER BULLET atau satu strategi sakti yang ampuh untuk semua macam bisnis.

Setiap bisnis adalah UNIQUE. Jadi meskipun produk yang dijual sama, strategi yang di implementasikan boleh jadi berbeda. Resources yang dimiliki oleh si pelaku bisnis lah yang menentukan strategi apa yang paling sesuai untuk bisnis tersebut.

Sekali lagi analisis..analisis dan analisis. Seteliti dan secermat mungkin sebelum Anda menentukan strategi. Pemahaman dan penyikapan yang salah atas situasi bisnis yang Anda hadapi, akan berakibat pada nasib bisnis Anda kedepannya.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam.
Saiful Islam

IG: @saiful.isme

Leave a Comment