Cerpen Qurban dan Investasi Masa Tua

Sebagai seorang muslim berqurban menjadi cita-cita besar. Menyisihkan sebagian uang untuk berqurban adalah kegiatan yang paling mengasyikkan. Terlebih jika kita bisa lebih merasakan makna kebahagiaan dari hari raya idul adha. Dimana ada kebersamaan dan saling bahu membahu sesama muslim.

Kini, cita-cita itu terasa lebih menggebu saat idul adha kali ini menjadi idul adha ke-4 aku berniat untuk berqurban. Sayangnya untuk saat ini itu hanya sekedar angan-angan. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu mengelus dada sambil berkata “Niat baik yang dibarengi usaha tidak ada kata mustahil”. Masih besar harapan itu dan sebagai remaja biasa, kadang aku merasa itu terlalu besar.

Seminggu terahir aku telah berjuang keluar dari zona nyaman. Di tempat rantau harapan itu semakin menggebu dan itu lebih memacu semangatku untuk bekerja keras dan bekerja cerdas. Bekerja keras sebagai karyawan pabrik jelas pilihan terahirku untuk saat ini, juga tidak lupa aku harus bekerja cerdas dalam membangun bisnisku untuk kedepannya.

Bukan … Bukan hanya niat berqurban yang ingin segera aku wujudkan. Jauh dari itu aku ingin menggadai setidaknya sepetak sawah untuk kedua orangtuaku. Aku sudah tidak sanggup melihat ayahku yang setiap hari berlumuran keringat bahkan sempoyongan demi menghidupi keluargu dan jelas ketiga adikku yang masih kecil.

Aku bisa melihat beban yang melilit tubuh kurusnya, aku sebagai anak sulung yang kini di perantauan jelas bisa merakan kegetiran ayahku. Setidaknya bila aku bisa mengumpulkan upahku selama beberapa waktu kedepan itu cukup untuk menggadai sepetak sawah. Sehingga ayah dan ibuku bisa menggarapnya, terlebih agar ayahku terlepas dari beban sebagai kuli bangunan.

Kutau, ayahku pasti menyimpan kesedihan setiap kali beliau berangkat kerja. Beliau berangkat pagi pulang sore, jelas sedikit waktu beliau bertemu dengan keluarga. Aku merasakan beberapa tahun terahir selama aku sekolah aku jarang bertemu ayahku apalagi saat aku ngaji malam.

Aku berangkat pagi pulang sore, kemudian petang berangkat ngaji dan pulang pagi. Kini kedua adikku pun sama sepertiku mereka ngaji dan nginap pula. Bahkan yang paling menyedihkan beliau tidak bisa hadir diacara pentingku disekolah seperti acara perpisahan. Beliau tidak bisa menyaksikan anak sulungnya menerima piagam penghargaan dan menjadi lulusan terbaik.

Kini, aku hanya ingin menyisihkan sebagian besar upahku untuk dapat berqurban untuk kedua orangtuaku dan untukku. Aku pun ingin benar-benar berhemat untuk berusaha keras mewujudkan niatku menggadai sepetak sawah sebagai investasi masa tua kedua orangtuaku.

Kalau bukan untuk orangtuaku, keluargaku… Untuk siapa lagi aku berjuang.. Karena merekalah cinta dari segala cinta, juga cita dari segala cita.

Leave a Comment