psikologis anak

Dampak Psikologis Anak Dari Keluarga yang Tidak Utuh

Tak terasa sudah 5 tahun lebih saya berprofesi menjadi seorang guru dimana membuat saya bisa berjumpa dengan berbagai tipe anak-anak dan juga orangtua. Ada yang pas diantar ke sekolah dengan pasukan keluar lengkap papa, mama, opa dan oma, sering juga saya jumpai si anak hanya diantar oleh suster atau sopir, dan ada juga yang diantar oleh salah 1 orangtua dengan meninggalkan pesan jika dijemput sama papa/mamanya jangan dikasih.

psikologis anak

Saya sebagai seorang guru tentu saja bukan porsi saya untuk mencampuri lebih lanjut permasalahan tersebut. Porsi saya yakni mendidik anak tersebut secara pendidikan dan karakter juga berusaha untuk mengisi jiwa si anak dengan hal-hal yang baik. Tidak jarang pula saya mendengar kisah dari sang anak yang masih duduk di bangku TK bagaimana ia melihat dengan mata kepalanya sendri mamanya dipukuli oleh ayahnya. Dengan kata yang cukup sederhana sang anak menceritakan kalo mamanya sering menangis karena papanya meneriaki mamanya dan ia berharap papa mamanya tidak bertengkar.

Tak bisa berkata-kata saya pun hanya bisa mengajak sang anak untuk berdoa untuk papa dan mamanya atau menyuruhnya untuk menghibur mamanya dengan cara  memberikan pelukan untuk mamanya atau menjadi anak yang taat. Ada juga anak yang baru berumur 5 tahun dengan gamblangnya ia bercerita bahwa papanya pergi meninggalkan mereka.

psikologis anak

Lantas, apa saja dampak dari pernikahan yang tidak utuh terhadap perkembangan anak?

Selain pernikahan yang tidak bahagia, pernikahan tidak utuh juga berbicara tentang single parent atau orangtua tunggal. Single parent tidaklah bisa Anda samakan dengan anak haram atau broken home. Dewasa ini, single parent sudah menjadi pilihan untuk para orangtua ini.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, sebenarnya sumber masalahnya bukan berada karena mereka hanya dibesarkan oleh salah satu orangtua saja tetapi karena kombinasi dari ketidakstabilan dalam keluarga, tekanan ekonomi dan konflik antar orangtua sehingga mengakibatkan masalah psikologis pada sang anak.

Ada juga sebuah penelitian yang dilakukan di Negara Swedia yang mempelajari kira-kira sebanyak 1 juta catatan anak muda menemukan bahwa anak-anak dari keluarga yang tidak utuh memipunyai  insiden sakit jiwa, resiko bunuh diri, dan kecanduan dengan alkohol 2 kali lebih banyak ketimbang anak-anak yang berasal dari keluarga utuh. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak ini cenderung lebih rendah diri.

psikologis anak
psikologis anak

Fakta yang lebih mengerikan yakni anakanak yang dibesarkan hanya oleh satu orangtua saja 14 kali lebih mungkin akan mengalami kekerasan fisik dan mental. Anak yang tinggal dengan Ibu tunggal yang hidup dengan pria lain, 33 kali lebih sering mengalami pelecehan anak.

Seringkali single parent didominasi oleh wanita dan biasanya pendapatannya di bawah rata-rata. Tentu saja ini mengakibatkan Ibu wajib bekerja lebih lama atau lebih keras sehingga anak kekurangan perhatian dan didikan. Tentu ini akan berakibat pada akademik anak. Akan tetapi, ada juga anak-anak dari keluarga utuh yang mempunyai catatan akademis yang baik. Tentunya ini akan bergantung kepada bagaimana orangtua mendidik anaknya.

Bagaimanapun juga, anak-anak membutuhkan stabilitas. Ketidakpastian dan guncangan emosi yang bersumber dari orangtuanya akan memberikan efek yang kurang baik bagi psikologis anak. Pertengkaran Anda, atau perceraian bahkan menyuruhnya untuk membuat pilihan harus memilih Ayah atau Ibu, atau pada saat orangtua menikah lagi dan tinggal bersama saudara tirinya sedikit banyak bisa memberikan guncangan buat anak. Ia dapat saja merasa diacuhkan, merasa ialah penyebab pertengkaran Anda atau bahkan stress.

psikologis anak

Bisa kita simpulkan bahwa tidak hanya orangtua tunggal yang bisa memberikan efek psikologis anak, ternyata pernikahan yang dipertahankan hanya demi anak tanpa mencari solusi dan menyelesaikan masalah juga bisa memberikan efek negatif buat anak. Salah satu pihak akan cenderung menyalahkan pihak yang lain di depan anaknya sendiri  sehingga akan memengaruhi kondisi anak. Pertengkaran demi pertengkaran yang anak Anda saksikan pun tidak akan baik untuk jiwanya. Bisa saja dia akan menjadi anti terhadap pernikahan atau bahkan ia akan membenci ayah atau ibunya sendiri.

Maka dari itu, apabila Anda merupakan orangtua tunggal lindungilah perasaan anak Anda. Jangan pernah libatkan ia dalam konflilk Anda dan pasangan Anda. Selanjutnya, perhatikan juga perasaan dan pikiran Anda. Stres yang Anda alami dapat menular pada anak Anda.

Akan tetapi, jika Anda masih bisa menyelamatkan pernikahan Anda, pergilah kepada konselor pernikahan. Perbaikilah pernikahan Anda. Selamatkan kapal Anda selagi belum tenggelam. Bagaimanapun juga mempunyai ayah dan ibu lengkap membuat anak Anda menerima dukungan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Anak laki-laki dapat melihat contoh dari ayahnya, dan anak perempuan dapat meneladani Ibunya.

Leave a Comment