Fenomena Yang Terjadi Ketika Muslimah Memakai Jilbab atau Cadar

Jilbab adalah pakaian muslimah, sesuai syariat yang sudah jelas dalam al-Quran sebagai tuntunannya. Namun tahukah anda bila jilbab mengalami diskriminasi terutama di negara barat? Sejarah telah menyimpan begitu banyaknya catatan tentang diskriminasi jilbab di berbagai pelosok dunia.

Diskriminasi terhadap jilbab dituangkan dalam Undang-undang di beberapa negara seolah menunjukkan bahwa jilbab adalah sosok monster mengerikan yang harus dibasmi. Peraturan yang melarang pemakaian jijbab dan burqah secara nasional terjadi di Belanda yang ditetapkan pada Desember 2006.

Bagai wabah penyakit, peraturan tersebut meluas di berbagai negara Eropa lainnya, mulai Juni 2006 negara Jerman resmi menetapkan peraturannya mengenai larangan memakai jilbab di sekolah-sekolah umum. Kemudian “wabah penyakit” ini semakin meluas seperti pada negara Swedia, Belgia, dan Spanyol, terlebih Gereja Katolik Spanyol mendukung penuh peraturan sepihak tersebut. Miris memang, negara Spanyol seolah lupa bahwa dulu islam telah mengangkat martabat bangsanya.

Larangan terhadap busana yang memuliakan muslimah ternyata bukan hanya terjadi di negara barat saja. Sebuah negara arab-muslim yang terletak di Afrika Utara bernama republik Tunisia pada tahun 2006 menetapkan peraturan bahwa mahasiswi dan murid perempuannya dilarang memakai jilbab di kampus dan sekolah.

Bahkan dengan sangat tidak manusiawi melarang ibu-ibu yang memakai jilbab melahirkan di rumah sakit umum, jika masih ingin mendapatkan pertolongan kesehatan maka mereka diwajibkan untuk melepas jilbabnya. Operasi besar-besaran membumi hanguskan jilbab di negara ini sampai mengambil langkah dengan menghancurkan toko yang masih menjual apapun yang berhubungan dengan jilbab. Naudzubillah.

Indonesia yang merupakan negara dengan muslim terbesar se dunia juga mengalami sejarah yang panjang, terutama di era orde baru yang mana melarang pemakaian jilbab di sekolah umum dan di tempat kerja. Namun pasca reformasi, jilbab mulai mendapatkan angin sejuk meski kontroversi menjadi makanan sehari-hari.

Berbeda dengan jilbab, cadar mendapatkan konsekuensi penolakan yang lebih besar. Selain stigma yang dilekatkan pada perempuan tangguh bercadar, yakni fundamental (aliran keras- red) yang kita ketahui erat hubungannya dengan isu terorisme. Cadar juga menghadapi penolakan teknis seperti dalam mendapatkan pelayanan publik. Beberapa universitas di Indonesia melarang siswinya untuk mengenakan cadar, seperti kasus dua orang mahasiswa yang tidak diluluskan dari fakultas kedokteran USU karena bercadar beberapa waktu yang lalu.

Seluruh data diatas membuktikan bahwa kebebasan dalam mengekspresikan ritual keagamaan selama ini dikekang oleh kaum-kaum berkepentingan (sekuler, kapitalisme- red). Telah sekian lama muslimah tidak diberi kebebasan dalam meyakini agamanya. Selama ini berkutat dengan permasalahan posisi sosialnya.

Hal tersebut diperparah dengan aksi terorisme orang-orang yang mudah teriming-imingi dengan kenikmatan dunia maupun akhirat. Bentuk diskriminasi baru baik eksplisit maupun implisit seolah tidak cukup menambah diskriminasi yang sudah ganda, ditambah campur tangan media yang lagi-lagi disokong oleh orang-orang penting.

Perspektif perempuan merupakan justifikasi dari adanya permasalahan posisi sosial dengan lelaki. Penjajahan kulturan yang terbukti sampai seumur hidup oleh kapitalisme-patriarki membuat perempuan bahkan lupa dengan kodrat yang telah diberikan oleh Tuhan atasnya. Bahkan untuk negara muslim sebesar Indonesia menemukan penjajahan, marjinisasi, diskriminasi hanya karena ia seorang perempuan tidaklah sulit.

Terbukti dengan masih banyaknya adat yang merugikan perempuan, yang sayangnya terus dilestarikan dengan dalih keragaman budaya. Sebenarnya apa yang manjadikan jilbab dan cadar sebagai identitas muslimah (tangguh) yang padahal bila dilihat dari situasi selama ini yang tidak berpihak dengan keyakinan mereka? Lebih jauh lagi tentang bagaimana mereka memaknai cadar sebagai identitas muslimah.

Identitas Muslimah

Muslimah adalah makhluk Tuhan yang harus bertanya tentang dirinya, bagaimana identitas diri yang sebenarnya, bagaimana caranya melalui dunia yang kata peribahasa hanyalah singgahan sementara. Identitas dapat menyamakan kita dengan orang lain, sekaligus membedakan kita dengan orang lain.

Setiap manusia memiliki keyakinan mendasar, sebut saja ideologi. Maka perempuan berjilbab dan bercadar menunaikan keyakinan tersebut dengan memakai atribut baru dalam dirinya, kemudian mengimplementasikannya dalam aktivitas sehai-hari yang tak lain adalah ketakwaan. Beberapa orang mengkaitkan keyakinan tersebut dengan proses hijrah, sering sekali kita temui perempuan berjilbab dan bercadar tidak lagi berkutat dengan kewajiban-kewajiban agama, melainkan sudah merambah pada keistiqomahan dalam menjalankan sunnah-sunnah Rosul.

Seperti halnya kita sibuk bertanya akan kesahhan suatu hukum islam kepada si fulan A, kemudian si fulanah B menjawab lain. Maka mereka yang telah sadar bahwa proses menuju ketakwaan itu penting, tidak lagi bertanya ke fulan A, kemudian fulanah B, melainkan dengan semangat mencari tahu “ngaji” sendiri dengan pedoman al-Qur’an Hadits dan ijmak qiyash.

Jilbab dan cadar menjadikan diri muslimah ter-hijab secara menyeluruh dan terhindar dari fitnah fitnah keji, Dari Ummi Salamah r.a. dia berkata, Nabi SAW bangun di malam hari dan beliau bersabda: “Tidak ada Tuhan melainkan Alloh, fitnah apakah yang ditutrunkan malam ini? simpanan-simpanan apakah yang diturunkan? Siapakah yang membangunkan para pemilik kamar? Banyak orang putri berpakaina di dunia, tapi telanjang pada hari kiamat.” (jawahir Bukhari nomor 631)

 

Identitas yang mereka pilih menjadikan diri mereka seorang muslimah yang tangguh. Berkarakter kuat, ikhlas, serta baik hati karena mereka menyadari bahwa tidaklah mudah lingkungan mereka menerima seorang yang bercadar tanpa pertanyaan-pertanyaan.

Saya sendiri memiliki tiga teman yang bercadar dan terus istiqomah di kesehariannya. Ketiga teman saya yang bercadar tersebut memiliki pola yang sama dalam menuntut ilmu. Pertama dengan pemahaman konsepsi terus memperbaiki diri, karena sebaik-baik muslim adalah dia yang terus memperbaiki diri.

Kedua metode yang dipilih dalam menuntut ilmu beragam, mulai dari kuliah umum, membaca buku dan kitab, hingga mengikuti pengajian-pengajian, bahkan memiliki ustadzah sendiri, beberapa memilih semua metode tersebut dan dilakukan secara berulang-ulang karena kebanyakan berstatus mahasiswi.

Ketiga belajar cerdas, yakni mereka tahu bahwa suatu ilmu tidak bisa ditelan mentah-mentah, mereka biasanya memiliki referensi ilmu melalui beberapa sumber sehingga meninggalkan bekas dibenak saya bahwa mereka adalah perempuan yang sangat tangguh dan anggun.

Perempuan yang berjilbab dan bercadar melakukan kegiatan keseharian seperti individu-individu lainnya, namun demikian atribut yang dikenakan memiliki konsekuensi perilaku yang juga harus dijalankan. Bukan hanya berlaku pada perempuan yang berjilbab dan bercadar saja melainkan semua muslimah yang beriman seharusnya wajib untuk melakukan hal-hal tersebut. Tapi mereka yang memutuskan berjilbab dan bercadar memiliki keyakinan yang lebih dan ideologi yang kuat sehingga menjadikan perilaku mereka sebagai ladang dakwah.

Mereka yang memiliki ideologi dan identitas islam maka mengerti dengan dasar-dasar berhubungan dengan sesama manusia, ikhwal mahrom, jual beli, dan yang paling mencolok adalah pemisahan kehidupan antara perempuan dan laki-laki bukan mahrom. Mereka yang menjaga pendangan dan istiqomah dalam melakukannya tidaklah mudah, maka perlu memiliki keinginan yang kuat dalam mempertahankannya. Maka bergaul dengan orang yang tepat adalah solusinya. Saling mengingatkan dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Salam ukhwah.

Leave a Comment