Hikmah Hidup : Bercerai Dari Penghidupan Sempit

Kemarin saya ada urusan perbaikan mobil, masuk ke bengkel-bengkel resmi perusahaan otomotif di Purwokerto, setiap ada bengkel resmi pasti di sampingnya ada bengkel perorangan yang berdiri. Strategi marketing penjualan yang jadikan bengkel perorangan muncul hampir di setiap bengkel resmi perusahaan otomotif, strateginya promosi brand lebih mudah, dan otomatis pelanggan yang tidak berani dengan harga spare part di bengkel resmi, dia akan lari ke bengkel perorangan dengan harga lebih terjangkau.

Menyakitkan, bukan? Andai Anda yang mendirikan warung makan dengan kualitas baik dengan harga menyesuaikan kualitas, lalu di samping warung makan Anda orang lain mendirikannya dengan harga murah. Menyakitkan?

Samsung dan Apple sedang nyaman-nyamannya jualan produk android berkualitas, tiba-tiba muncul merk Xiaomi yang harganya membanting dengan kualitas baik. Menyakitkan?

Pada Mei 2018 kemarin, pondok pesantren saya membutuhkan beberapa guru untuk TK, MI, MTs dan SMK Darul Abror. Tiap mapel hanya butuh satu guru, tetapi yang mendaftar mencapai belasan. Yang diterima jadi guru cuma satu, berarti belasan lainnya tersakiti.

Sepertinya dunia ini hanya seluas daun kelor, kompetisi, persaingan, permusuhan, perebutan, dan seterusnya sepertinya sudah menjadi karakter urusan dunia.

Kenapa urusan dunia sesempit dan seruwet itu? Karena memang itu karakter asli dunia, sempit dan ruwet, sehingga banyak orang merasa tersakiti hatinya.

Dalam Al-Hikam, Ibn Athaillah menyampaikan,

لَاتَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ اْلأَكْدَارِ مَادُمْتَ فِى هَذِهِ الدَّارِ. فَإِنَّهَا مَاأَبْرَزَتْ إِلَّا مَاهُوَ مُسْتَحِقٌّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا

“Selama engkau berada di dunia ini janganlah terkejut dengan adanya kekeruhan. Sesungguhnya kekeruhan muncul hanyalah karena memang menjadi sifat pantasnya dunia atau karakter asli dunia.”

Sehingga ciri khas bahwa urusan Anda adalah urusan dunia, di situ terjadi kekeruhan di dalamnya.

Rebutan kursi RI 1, keruh kan? Rebutan kebenaran agama, keruh kan? Sampai-sampai gelar “cebong dan kampret” jadi bahasa nyinyir harian. Background-nya “bela agama Allah”, tapi efeknya “cebong dan kampret”, ya begitulah “urusan dunia”, padahal yang teriakkan “bela agama Allah” sudah merasa bermanagemen akhirat sesuci-sucinya, padahal hakikatnya tidak berbeda dengan politikus yang sedang berebut kekuasaan. Keruh, itulah karakter khas urusan dunia.

Hakikatnya sempit atau luasnya urusan duniaitu bukan fakta realita, itu hanya sebuah kesadaran. Anda sering bersaing rebutan rezeki, takut tersingkir, takut kalah, takut tidak dapat bagian, tapi nyatanya semua makhluk dapat rezeki, bahkan dari masa ke masa, dunia ini makin makmur rezeki. Artinya kekhawatiran Anda “tidak dapat bagian”, itu hanya sebuah kesadaran yang menyempit.

Dalam urusan agama juga demikian, misal Anda cebong, ingin sekali merobohkan kampret, nyatanya kampret tetap punya masa yang solid, dan sebaliknya misal Anda kampret, ingin merobohkan cebong, nyatanya cebong juga makin solid. Anda tidak sadar, tinja saja ada pengagumnya yakni lalat, apalagi aliran ideoligi agama, bagaimana mereka tidak dapatkan jamaah? Yang Anda sempitkan hanyalah kesadaran toleransi Anda, faktanya disempitkan ataupun diperluas toleransinya, masing-masing kelompok sudah dijatah pengikutnya, hingga tinja kotoran Anda juga punya jatah pengikut fanatiknya.

“Dunia tidak selebar daun Kelor,” ini dimensi yang benar, namun “selebar daun Kelor” ataupun “tidak selebar daun Kelor” itu hanya bentuk kesadaran Anda.

Saya pernah menuliskan, saya pedagang, mengelola usaha toko kelontong dan laundry. Makin hari pesaing makin banyak, toko-toko serupa bahkan yang lebih lengkap dari toko saya muncul bertebaran, tetapi saya menilai pesaing sebagai keberuntungan besar. Lah iya, di perkotaan, toko-toko berderetan, ini disebabkan banyaknya pembeli, pembeli membludak, penjual menjadi banyak.

Ketika pesaing dagang Anda banyak, itu artinya rejeki makin banyak, sebab permintaan konsumen banyak, di pedesaan toko jarang karena konsumen sedikit. Dengan menyadari ini, saya tidak pernah susah hati, malahan saya berbahagia ketika muncul pesaing toko. Bahkan kemarin ada tetangga saya membuka laundry-an baru, saya ajari dia ilmunya, sampai saya bantu belanja peralatan yang dibutuhkan.

Dan nyata, saya menyadari pesaing bukan sebagai macan pembunuh, tetapi sebagai jalan pemudah rezeki, pemasukan toko saya terus merangkak naik, usaha laundry keren lagi, berlipat ganda pelanggannya. Semua diawali dari pengaturan kesadaran kita.

Memberi nafkah pada keluarga ada yang menyetting kesadarannya sebagai pengeluaran, maka kemudian memberi pada anak dan istri diatur irit sedemikian rupa. Karena kesadarannya “mengeluarkan” maka atensinya menjadi rasa kurang, rasa fakir dengan rezeki. Rasa fakir adalah versus dari rasa syukur. Tidak syukur, jatah rezeki berkurang. Padahal kalau kesadarannya didasarkan pada rasa kaya, bahwa, “Saya kaya, saya cukup, saya berlimpah,” maka saya sanggup memberi banyak, bila begitu alam semesta mencatatnya sebagai rasa syukur. Rasa syukur tentu ditambah rezekinya.

Jadi catatannya, sempit dan luasnya urusan dunia Anda itu adalah bentuk kesadaran Anda, realitanya kehidupan ya begini ini.

Jelas yang mematikan diri Anda adalah kesadaran Anda sendiri. Kalau kesadaran Anda akan urusan dunia sempit, semuanya yang Anda temui jadi menyakitkan. Setelah menyakitkan hati Anda lalu lahirlah kisruh. Habis kisruh terbitlah hancur.

Segala hal jika sempit pasti menyesakkan dan menyusahkan.

Orang-orang dengan kesadaran sempit terhadap urusan dunia, dia juga akan diberi penghidupan sempit, Al-Qur’an menyebutnya “ma’isyatan dhanka”.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S.Thaha:124)

Jadi kalau Anda ingin ruwet penghidupannya, bercerai dari rezeki harmoni, sempitkan kesadaran Anda. Penyempitan kesadaran pada urusan dunia tandanya ada rasa ketersinggungan pada urusan dunia.

Contoh tersinggung urusan rezeki, punya bisnis tapi sibuk banting harga untuk menarik pelanggan banyak agar pembisnis di sebelah KO. Terjun di politik bukan berkonsentrasi perbaiki kinerja, tapi sibuk cari celah serang lawan politik. Agak enek pada istri langsung bentak-bentak. Agak boros dengan uang, khawatirnya menggerogoti hati. Antri BBM di SPBU dengan rasa gusar, sepertinya menjadi orang tersibuk di dunia sehingga harus BBM-nya harus disegerakan pengisiannya. Pesawat delay, langsung hatinya menggerutu.

“Ngelos” atau melepas perasaan saat dapatkan ketidaknyamanan perasaan itulah jalan memperluas kesadaran. Sering-sering berperasaan, “Ya sudahlah,” saat menghadapi ketidaknyamanan hati itulah jalan untuk bercerai dari “ma’isyatan dhanka” atau “penghidupan sempit”.

Oleh : Muhammad Nurul Banan

Leave a Comment