Hikmah Hidup : Kemenangan Yang Membahagiakan

Hampir tak percaya rasanya, kalimat mutiara ini keluar dari seorang yang dulunya sangat kasar, preman pasar, beberapa kali menang dalam duel di pasar Ukaz. Islam telah merubahnya. Namanya Umar bin Khattab ra. Dialah pemilik peribahasa ini.

Sangat benarlah kesimpulan beliau dalam mengenal agama Islam ini. Dulunya, tentu Umar ra adalah orang yang senang mengalahkan orang lain. Duel, adalah ladang pembuktian. Kebahagiaan sang petarung, pastinya saat melihat lawannya jatuh bersimbah darah, sambil tangannya melambai-lambai tanda menyerah.

Saat itu, dalam hati sang petarung, akan bersorak “yeaaaay aku menang, aku menaaaaang…. yeeeaaah” sambil terbayang butiran-butiran kertas warna warni menghias turun dari langit, disambut dengan lighting yang indah dan menawan, tos kanan kiri para pengikut dan pengagum.

Saya pun begitu. Walaupun bukan dalam duel fisik, saya suka duel kata-kata. Berdebat dan adu mulut. Dulu sebelum mengenal ilmu Magnet Rezeki, rasanya bahagia sekali melihat orang lain “terkapar” menyerah dengan kalimat-kalimat argumentasi dan logika yang saya paparkan.

Di sisi saya, bersorak senang saat menang. Ya, saya sudah berhasil mengalahkannya, I am the winner. Kemenangan itu rasanya manis di awalnya, tapi seiring waktu, kemenangan itu akan hambar dan hilang menguap. Berganti dengan kepiluan dan rasa hampa.

Memang, orang yang saya kalahkan biasanya mundur teratur. Saya lihat punggungnya makin lama makin hilang dalam pandangan. Wajahnya meratap. Meringis. Kalah.

Itu yang ada dalam imajinasi saya. Tapi yang saya tidak tahu, sebagian dari yang saya kalahkan akan bicara dalam hatinya “sing waras ngalah…”

Ya, bagaimana tidak, sebagian yang saya kalahkan status sosial, harta dan pendidikan-nya lebih dari saya. Saya sih bahagia karena berhasil mengalahkan mereka, tapi yang tidak saya tahu, ternyata mereka lebih hebat dari saya. Lebih hebat dari sisi mengendalikan hati. Dari sudut pandang mereka, ternyata saya kalah. Itu yang dulu saya tidak tahu.

Menang yang ternyata kalah. Sudah kalah dalam emosi, kalah dari sisi waktu belajar.

Banyak juga yang saya kalahkan, tidak terima. Mereka dendam. Mereka mau kembali mengalahkan saya. Lalu, mereka mengatur langkah, menyusun strategi. Ada yang bicarakan saya di belakang, menggosip saya. Ada juga yang menghancurkan reputasi saya dan membuat orang lain tidak suka dengan saya.

Yang saya rasakan setelah itu, barang dagangan saya kurang laku. Kawan semakin menjauh. Investor memutuskan kontrak. Ada sebagian yang saya rasakan menatap wajah saya dengan mencibir. Sebagian menghalangi proyek-proyek saya. Sebagian mengadukan saya ke pihak berwajib. Gosip untuk saya bertebaran di mana-mana.

Oh oh oh… kenapa kemenangan-kemenangan saya di masa lalu berbuah kekalahan di banyak lini. Saya mengaku sudah banyak kalah… satu-satunya kemenangan yang saya rasakan saat itu, adalah saya berkaca diri. Beruntung, Allah masih berkenan menumbuhkan rasa kemauan saya untuk belajar.

Mulailah perlahan-lahan, berbagai cermin ilmu didatangkan untuk saya. Salah satunya ya peribahasa Umar bin Khattab itu.

“Cara terbaik mengalahkan orang lain, adalah dengan mengalahkan keramahannya”

Pantaslah saya kalah banyak. Karena saya mengalahkan mereka dengan materi. Dengan kesombongan saya. Dengan harga diri saya. Dengan prestasi saya. Padahal kemenangan bukan didapatkan dari itu semua. Benarlah kata-kata Umar, kemenangan itu dari keramahan.

Sejak saya mendapatkan kalimat ini, maka saya tanamkan dalam-dalam di hati saya dan mencoba menerapkannya. Sekarang saya coba, saat orang lain ada di hadapan saya, saya mau mengalahkannya.

Ya, saya adalah petarung.
Saya adalah pemenang.
Dia harus kalah.

Namun berbeda dengan dulu. Kemenangan yang harus saya dapatkan adalah “harus lebih ramah” dari orang lain.

Saya pernah kalah. Suatu saat saya naik taxi online. Sang pengemudi menegur saya dengan amat teramat ramahnya. “Selamat pagi pak Nasrullah, senang sekali bisa bertemu bapak hari ini, saya Pardede, akan menemani bapak ke lokasi bapak”

Wuah, baru sekali ini saya merasakan ada driver taxi online yang seramah ini. Sepanjang perjalanan, dia menyebut nama saya dengan lengkap berulang-ulang.

– pak Nasrullah kerja di mana?
– pak Nasrullah anaknya berapa?
– wah pak Nasrullah masih keliatan muda
– pak Nasrullah pasti beruntung sekali ya…
– pak Nasrullah mudah-mudahan sukses terus yaa

Aduh, saya sampai meletakkan hape saya. Fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan membahagiakan dari dia. Saat saya ingin membalas, saya kehilangan peluru. Saya tidak ingat namanya dia…

Dengan malu dan perasaan kalah, saya bertanya, “bapak namanya siapa?” Oh ya pak Nasrullah, nama saya …… Pardede.

Kenapa koq titik-titik… ya karena saya sekarang tidak ingat namanya dia. Bentuk kekalahan saya yang lain. Saya hanya ingat nama marganya. Sebenarnya juga, dia sudah sebutkan namanya di awal pertemuan, tapi saya tidak peduli.

Aaah… saya mengaku kalah. Tapi saya tidak terima. Saya harus tetap menang. Yaaa… saya akhirnya memutuskan untuk belajar, belajar memuliakan dan membahagiakan orang lain. Agar titik kekalahan saya, jadi awal kemenangan saya di waktu lain.

Pak Pardede saya hormati sebagai guru saya. Saya doakan dia dalam hati saya. Terbukti saya menulis ini sebagai pujian dan penghormatan baginya.

Hari ini, pelajaran tentang keramahan terupload lagi dari memory saya. Dalam perjalanan menuju ke Amerika, saya gunakan Japan Airlines. Pramugarinya ramah sekali. Istri saya bilang “mereka ramah banget ya bi”. Saya mengamini. Dalam pengalaman saya naik pesawat baru kali ini saya rasakan pelayanan berbeda.

Memang saya baru pertama naik JAL. Itupun bolak-balik minta agar makanan saya dipastikan halal, dgn kode MOML, yaitu tanda Moslem Meal.

“Nanti saat di Narita, bapak ke transit desk ya” ujar pengurus JAL di Soekarno Hatta. “Biar diurus di sana. Kalau di sini, saya sudah request” jelasnya melayani permintaan saya. “Baik pak, terimakasih banyak”

Turun dari pesawat, nama saya tertulis di pintu. Seorang petugas memanggil-manggil. Biasanya yang seperti ini, adalah ritual penjemputan. Tapi saya penasaran, “ada apa?” Tanya saya. “Oh ya, ini bapak diminta ke transit desk untuk mengurus meal bapak” ujar seorang petugas dengan berbahasa Inggris. Oh, ternyata mereka peduli sekali, batin saya.

Setelah mengantri, saya dilayani dengan sangat teramat ramahnya oleh seorang petugas transit desk. Wah saya tidak terima. Saya tidak mau dia lebih ramah dari saya. Diujung pelayanan, akhirnya saya tahu cara terbaik mengalahkan keramahannya.

“Thank you very very much, miss Onoki” ujar saya berterimakasih sambil menyebut namanya. “Oh… your welcome sir”

Yesss… saya akhirnya berhasil mengalahkan keramahannya. Dia tidak menyebut nama saya, tapi saya berhasil memuliakan nama dia.

Tentu, kali ini saya merasakan kemenangan yang sebenarnya. Kemenangan yang berujung kebahagiaan dalam hati saya dan hati orang yang saya kalahkan. Kemenangan yang aneh. Tapi juga kemenangan sejati.

Aaah, keren sekali peribahasa ini. Terimakasih ya Umar ra telah menitipkan kalimat ini untuk saya. Sekarang saya sudah tidak sabar ingin bertemu orang dari belahan bumi manapun, dan siap-siap… saya akan mengalahkan keramahan mereka.

Tentu, saya juga mau “mengalahkan” Anda. Para pembaca tulisan ini. Saya akan kalahkan Anda dengan doa.

Teriring doa… smg Allah memuliakan, membahagiakan, menjayakan, memberkahi kehidupan Anda dunia dan akhirat…. al-fatihah… aamiin…

Sahabatmu,
Nasrullah

Leave a Comment