Jadikan Istri Sebagai Partner Diskusi Terbaik Anda

Sepulang dari kampus dua hari yang lalu, saya kembali bergumul dengan merevisi tulisan di buku terbaru saya: PhD Parent’s Stories – menggapai cita-cita bersama pasangan hidup. Ada salah satu tema yang sedang saya garap, judulnya kebetulan mirip dengan sub-tema buku ini: menggapai cita-cita bersama pasangan hidup.

Maka mulailah saya membuka buku-buku yang pernah saya baca. Dari mindset-nya Prof. Dweck, hingga Grit-nya Dr. Duckworth. Jangan salah, seseorang yang punya karakter berkualitas dalam hidupnya, cenderung bisa menjaga kelanggengan rumah tangganya dibanding dengan yang lain. Untuk itulah, buku-buku ini saya baca lagi.

Dari sekian banyak referensi yang saya telusuri, saya terpaku membaca salah satu surat yang ditulis tahunan oleh Bill dan Melinda Gates sebagai refleksi perkembangan yayasan yang sedang mereka garap: Bill and Melinda Gates Foundation. Surat tahunan ini berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang banyak diberikan kepada mereka terkait perkembangan yayasan yang mereka bangun. Kutipan kalimat dari Bill Gates berikut ini membuatku merenung cukup lama:

“Some people see Melinda as the heart of our foundation, the emotional core. But just as she knows I’m more emotional than people realize, I know she’s more analytical than people realize. When I get really enthusiastic about something, I count on her to make sure I’m being realistic.

Translasi: beberapa orang memandang Melinda sebagai jiwa dari yayasan kami, pusat emosional yayasan ini. Tapi sesungguhnya saya lebih emosional disbanding Melinda. Saya tahu dia berfikir sangat perhitungan lebih dari yang orang ketahui. Ketika saya begitu antusias dengan sesuatu, maka dia membuat saya bisa berfikir lebih realistis”

Sebuah penjelasan yang terang benderang betapa pentingnya peran seorang Melinda dalam hidup Bill Gates. Bahkan dalam banyak wawancara mereka, Melinda memang selalu menjadi figure yang kelihatan lebih terdidik dibanding Bill Gates sendiri. Begitu pengakuannya.

Kita tinggalkan Bill dan Melinda, lalu menengok kisah Michelle dan Barack Obama. Pertemuan intens pertama mereka berlangsung saat Obama sedang melewati internship di the law firm Sidley Austin LLP. Sesama lulusan Harvard, Michelle ditugaskan untuk menjadi mentor Obama selama menjalani internship-nya.

Tertarik dengan kecerdasan seorang Michelle, tak berapa lama, Obama sudah menjadikan perempuan yang selalu berbicara penuh kesan ini sebagai pacarnya. Kemudian, tentu saja istri dan berakhir menjadi Ibu Negara. Ada satu kalimat yang sering diulang-ulang Obama, bahkan dalam pidato perpisahannya sebagai Presiden Amerika:

“Michelle is my best friend. We are a teammate”

Lihatlah kata yang dipakai Obama: best friend dan teammate. Bukan sekedar istri atau belahan jiwa saja. Namun keduanya berjalan beriringan sebagai satu kesatuan menaklukan visi yang sudah mereka bangun.

Ada satu kesamaan yang tak bisa kita elakkan dari dua sosok perempuan ini: MEREKA ADALAH PARTNER DISKUSI TERBAIK BAGI SUAMI MEREKA. Melinda dengan pengalamannya terlibat di perusahaan Microsoft lalu kemudian berkecimpung penuh dengan yayasan mereka, tumbuh menjadi seorang wanita yang mampu mengimbangi ide-ide sang suami.

Begitu juga dengan Michelle. Anda bisa saksikan pidato-pidato dan petikan wawancaranya yang selalu mengagumkan. Ia selalu memberikan respon atas pernyataan Obama dengan jawaban-jawaban yang bernas.

Maka jadikanlah istri kalian sebagai partner diskusi terbaik. Beri mereka bacaan yang bagus jika yang sedang kalian baca juga mampu “menumbuhkannya”. Ajak istri anda membicarakan hal-hal yang mungkin terdengar rumit. Karena dengan itu, kalian bisa sama-sama belajar. Jangan “tinggalkan” dia sedang anda “tumbuh” di luar. Dalam bilangan tahun berikutnya, akan ada perbedaan cara berfikir yang bisa membuat kalian menjadi tidak nyambung.

Percayalah, lebih nikmat berdiskusi dengan sitri sendiri dibanding perempuan lain. Kalau anda sudah merasa lebih nikmat berdiskusi sama perempuan lain dibanding istri sendiri, mungkin perlu merenungi kembali kondisi kalian masing-masing.

Sebagai penutup, jauh sebelum Melinda dan Michelle memberi contoh tentang besarnya peran seorang istri. Ada teladan yang lebih mulia dan mengagumkan yang sudah ada lebih dari 1000 tahun yang lalu. Dialah ibunda Khadijah ra. Saat Sang Nabi datang ketakutan membawa kabar tentang pertemuannya dengan Jibril dan turunnya surat Al-Alaq.

Khadijah-lah yang menenagkannya. Keluasan ilmu, kepiawaiannya dalam berdagang, kebaikan nasab, serta tentu saja hartanya yang melimpah membuatnya disebut sebagai Ratu Makkah.

Dengan kecemerlangan yang dimiliki Khadijah, sang Ummul Mukminin ini selalu meletakkan perjuangan suaminya lebih dari segelanya. Membantunya dengan harta yang dimilikinya, membersamainya dikala suka dan duka, serta tentu saja, menjadi sahabat diskusi terbaik bagi sang Rasul dalam hidupnya. Wajarlah jika Rasulullah saw pernah berkata kepada Aisyah atas kecemburuannya kepada Khadijah:

“Allah tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.” (HR. Ahmad)

Leave a Comment