Ketika Kita Harus Mecintai Pekerjaan dan Kehilangan Orang Tercinta

Bekerja merupakan salah satu cara untuk seseorang bertahan ditengah kerasnya hidup. Alasan utamanya seringkali tidak jauh dari tuntutan ekonomi keluarga. Nanun tidak sedikit kerasnya dunia pekerjaan di pabrik menjadi momok yang menakutkan bari para pencari kerja. Bila tuntutan ekonomi dan dunia kerja sama-sama keras bagaimana seseorang harus tetap hidup?

Bagaimana seseorang bertahan hidup?
Bekerja? atau mungkin Membuka Usaha?
Pasti kebanyakan orang memilih untuk bekerja dengan segala proses dan resiko yang ada. Terlebih bila Ia tidak memiliki pilahan lain saat ekonomi keluarga benar-benar mendesaknya.

Aku pun begitu, aku ada seorang wanita kampung yang baru lulus sekolah. Usiaku baru 18 tahun dan masih terbilang cukup nekad saat sekarang aku memilih kerja di pabrik garmen, lebih tepatnya pabrik pembuatan baju.

Seperti kata pepatah sunda yang selalu kuingat “Orang kampung ulah bau lisung, orang kampung kudu bisa ngapung” itu adalah pepatah sunda yang memacu semangatku semenjak aku duduk dibangku SMP sekitar usia 15 tahun.

Kalau diambil maknanya secara bahasa indonesia kuranglebih seperti ini “orang kampung jangan hidup seadanya kampungan tetapi harus maju” inilah salah satu alasan kenapa aku memberanikan diri merantau dari kampung halamanku demi memulai semua niat baikku untuk maju dan sedikit mengubah keadaan ekonomi keluarga.

Memutuskan untuk bekerja di pabrik bukan sebuah keputusan yang mudah bagi anak yang baru lulus sekolah sepertiku. Tentu banyak mimpi besar yang kusimpan rapi selama beberapa tahun kebelakang salahsatu mimpiku yaitu menjadi Sastrawan dan Wirausahan.

Bagiku kedua mimpiku terlalu besar untuk kenyataan hidup yang kuhadapi saat itu, tapi disela-sela kerasnya dunia pabrik yang kujalani aku tetap meyakinkan hatiku kalau aku bisa menggapai cita-citaku itu mungkin suatu saat ketika semuanya tepat.

Wirausahawan merupakan list cita-cita besarku yang cukup mempunyai harapan besar untuk kedepannya untuk diriku sendiri dan orang-orang disekitarku. Aku memang beberapa bulan terahkir sebelum lulus sekolah sempat merintis usaha kecil-kecilan dengan membuat produk makanan dengan modal yang sangat pas-pasan. Dibilang sangat pas-pasan karena aku beserta kedua teman dekatku hanya patungan 4000 rb untuk membuat produk makanan kami

Namun seiring berjalannya waktu aku berpikir keras untuk benar-benar merintis usahaku dengan pertimbangan dan persiapan yang matang. Tentunya bekerja di pabrik menjadi pilihan terakhirku untuk bisa menyisihkan untuk tabungan modal sisa dari uang gaji yang harus aku berikan untuk kebutuhan hidup ketiga adikku yang masih kecil. Terlebih karena aku anak sulung.

Adapun untuk pekerjaanku saat ini yang jauh dari orangtua, sanak keluarga dan sahabat karibku. Jelas menjadi hal yang sangat berat. Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, “Apa aku bisa? Apa aku kuat?” dan pertanyaan lainnya sebagai curahan perasaan sepi yang kurasan saat jauh dari mereka semua. Apalagi sahabat-sahabatku yang selama ini selalu mendukungku dan merangkulku jelas sangat membuatku kehilangan…

Dan sekarang aku harus mencintai pekerjaanku apapun resikonya.

Meski rindu dan meski tak mampu aku akan selalu berusaha. Karena kerasnya hidup mengajarkan arti pengorbanan dan proses yang harus dijalani dengan ikhlas

Leave a Comment