Lintas Komunitas : Kekuatan Yang Hilang

Postingan tentang donasi mobil Selo sedikit membawa komentar yang perlu Saya jawab.

“Tulisannya bagus tentang berkarya, tapi ujungnya kok minta donasi.”

Sebuah komentar sederhana, tetapi mendorong Saya untuk memaparkan panjang tentang strategi kebangkitan nasional yang fundamental.

Yang lagi mau dibuat ini prototype. Di industri besar, untuk membuat prototype ini bisa ratusan M. Dasar memang Bang Ricky orang gila, kerangka dasar mobil selo ini pake tanah liat. Semua cost ditekan. Yang penting mobilnya jadi dulu. Yang penting ada semangat membuat. Memang gak sempurna, karena ini gerakan swadaya. Bukan kekuatan industri besar.

Mobil listrik ini kan mainan isu politik. Kalo ditunggangi, konon bisa naikin popularitas dan elektabilitas. Begitu katanya.. Saya juga gak ngerti-ngerti amat. Bukan aktivis politik praktis.

Makadari itu, yang nau biayain SELO 2 ya bejibun. Banyak tokoh, entitas politik, yang mau pake project ini diklaim sebagai miliknya. Ini yang gak enak.

Paska KSN 2018, Bang Ricky Elson ini butuh gak butuh sama SSN. Saya dan tim sampai harus menempuh belasan jam perjalanan darat untuk menemui Bang Ricky di Ciheras. Di ujung tepi selatan laut Jawa Barat. Bermandikan pasir hitam pantai yang dulu tambang timah warga. Disanalah Saya merayu kuat…

“Bang, sama kami aja, kami gak ada kepentingan, bukan parpol, saya bukan capres, caleg, atau sejenisnya, yuk sama kami aja…”

Alhamdulillah Bang Ricky juga punya pikiran yang sama. Beliau malah bantu project awal ini dengan dana yang didapat sendiri. Sampai hari ini, 1 rupiah pun belum kami forward, tapi 30% proses beliau paksakan jalan.

Dari SSN konsepnya 100% forward. Andai ada cost, itu cost marketing FB ads dan campaign untuk donasi ini. Selebihnya jadi cost produksi mobil Selo. Jadi rekenjngnya kami buatkan khusus. Terpisah dengan rekening organisasi. Khusus donasi saja.

Jadi semangatnya, mobil ini punya ummat. Punya masyarakat. Saya pun gak bisa ngeklaim.

Jika memang dari dana ini ada upah sebagai cost untuk para tenaga yang membuat mobil ini, ya itu wajar banget. Malah aneh kalo ada orang-orang yang berdedikasi bulanan tapi gak dapat apa-apa. Bagi SSN ini sudah clear. Kami percaya grup lenteranya Bang Ricky. 100% dana kami forward tanpa potongan.

***

Saya ingin lebih berbicara pada mekanisme sosialnya. Urunan dan patungan ini adalah gerakan gotong royong. Ini filosofi dasar kekuatan bangsa. Dan ini yang hari ini HILANG.

Setelah proklamasi kemerdekaan, setelah pernyataan kemerdekaan oleh Bung Karno, negeri ini diancam sekutu. Pasukan perang bersenjata berat menyerang masuk lewat Surabaya, dan di beberapa titik lainnnya.

Mereka datang bawa pesawat tempur, bawa puluhan ribu tentara profesional. Kita hanya punya rakyat, yang memutuskan melawan dengan apa adanya. Mereka bawa bambu runcing, membakar kota, bergerak bersama mempersulit gerak tentara sekutu, dan MENANG.

Susah dibayangkan, kapal perang, pesawat tempur, meriam besar, kalah sama Rakyat dengan tangan kosong. Yaitulah kekuatan kearifan lokal yang kita miliki : GOTONG ROYONG – KEBERSATUAN.

3M anggaran bikin mobil SELO, kalo dikerjain 10.000 Saudagar Negeri, hanya 300rb per orang. 50rb per bulan selama 6 bulan kedepan. Anak bangsa bisa buktikan, bahwa gotong royong itu masih ada.

Ini bukan masalah 3M nya, menurut saya ini simulasi kekuatan anak bangsa. Apakah sebenarnya kita masih bisa bergerak? Apakah kita masih punya sangka baik? Apakah kita masih punya daya dukung?

Konser artis luar negeri, jutaan rupiah, memakai venue yang sama SICC… 10 ribu anak muda beli tiket, menghasilkan puluhan M untuk EO dan si artis, kita gak pernah komplain. Adem aja. Gak ada isu apa-apa. Hehehehe….

Ini kita ngumpulin 3M aja, jadinya mobil, bukan milik SSN tetapi milik anak bangsa. Silakan di towing keliling negeri, dipamerkan sebagai buah karya bersama anak negeri. Pasti ada efek ke jiwa anak negeri. Cukup melihat mobilnya, kita bisa berlinang air mata. Hati anak negeri ini bisa bergetar kembali. Inilah kesadaran yang ingin dibangun : BERKARYA.

***

Selain tentang kebersamaan, ini tentang HUBUNGAN RENGGANG yang terjadi antara pengusaha nasional dan para teknokrat

Hari ini, para doktor, para ahli, para anak-anak muda berbakat negeri, jadi tim riset di Toshiba, di Panasonic, di Samsung, di Apple. Ya bukan salah mereka, dan bukan salah perusahaan asing tersebut. Tapi salah kita sendiri yang tidak bisa MEPEKERJAKAN mereka dengan layak.

Pengusaha nasional, para saudagar negeri ini berjarak dengan para teknokrat. Kita jarang danai riset mereka. Kita jarang mau investasi jangka panjang untuk menemukan produk unggul. Kita ini senangnya jualan, dapat cuan, gak repot buat. Udah. Akhirnya para ahli ini kehilangan kepercayaan terhadap pengusaha nasional. Mereka memilih mengabdikan diri pada perusahaan asing. Karena ya memang cuma kepake disana.

Walau masih receh-receh, hubungan Saya dan Rikcy Elson ini adalah hubungan dua kutub anak bangsa yang sedang terpolarisasi. Saya di dunia entrepreneur, dan Bang Ricky di dunia teknokrat.

Kami sedang memaksa diri membangun komunikasi dan kerjasama. Mati-matian kami berusaha men chemistry kan hubungan. Asli gak gampang. Tapi ini harus dicoba.

Kami di SSN mencoba, membangun hubungan yang renggang ini. Mari kita buktikan dengan donasi, dengan urunan, dengan kerja bareng.

Kalo donasi ini berhasil, ribuan diaspora ahli yang terserak diluar negeri akan melihat sebuah harapan pada negeri ini. Bahwa para pengusahanya mulai perhatian dengan dunia riset. Gak usah ngarep ada gelombang para doktor mau pulang, minimal tenaga ahli yang muda-muda mau balik setelah belajar. Ekosistemnya kita buat dari sekarang.

Bikin prototype ini sekalian riset. Berlatih membuat. Mencoba. Bikin dulu 1, mudah-mudahan suatu hari kita bisa memperluasnya ke skala industri. Itu biar berjalan alami.

SSN juga gak nekat gerak kesana cepat-cepat, kami ngerti kemampuan anak negeri. Tenang aja, gak ada niat bikin pabrik mobil listrik. Masih jauh kok.

***

Jadi, jika ada yang memfatwa gerakan donasi ini hanya sebatas gerakan SIMBOLIK NARASI BERKARYA, ya memang itu aslinya. Beneran. Memang itu.

“Wah, cuma selebrasi doank…”
“Oh.. cuma buat prototype doank ya..”
“Yaahh.. cuma dipajang doank…”

Oke iya.. memang itu… KARENA memang itu masalahnya. Anak bangsa ini sudah lama KEHILANGAN NARASI.

Kehilangan narasi bahwa dirinya bisa berkarya, kehilangan narasi bahwa bangsanya bisa bergerak bersama, ini yang HILANG, dan akan kembali kita TEMUKAN.

Bangsa besar yang lemah adalah bangsa besar yang kehilangan narasi, kehilangan arah, kehilangan kejelasan destinasi, mau kemana ini bangsa.

Ini bukan tentang pemerintah. Pemerintah jumlahnya hanya 4,5 juta orang. Sedangkan bangsa ini 250 juta orang. Bicara tentang narasi bangsa adalah bicara tentang isi kepala 250 jita anak bangsa.

Kalo mobil ini jadi, Saya berharap, kita timbul kesadaran untuk memproduksi.

“Oh.. kita bisa ya…”

“Oh… ternyata kita anak negeri juga bisa berkarya kok…”

“Oh… anak negeri sanggup ya.. kita ini ngerti ya bikin beginian…”

Pada akhirnya, akan muncul ricky-ricky yang lain. Akan ada yang bergerak bikin turbin, bikin mesin, bikin pesawat, bikin motor, bikin… bikin.. dan bikin…

Akan lahir teknokrat yang dekat dengan pengusaha. Akan lahir pengusaha yang membuka diri dengan teknokrat. Akan terbangun komunikasi.

Yang bisa bikin… ketemu dengan yang bisa jualan…

Yang bisa menemukan… ketemu dengan yang bisa memproduksinya dalam jumlah massal…

Yang bisa merencanakan dan merancang… ketemu dengan yang bisa membangun rencana investasi…

Yang penuh ide dan brilian… akan bertemu dengan tangan dingin yang siap mengeksekusi.

Kalo ini kejadian… blasssstttt…. kita TAKE OFF sebagai bangsa kuat. Pemerintah tinggal duduk ditengah, bangun ekosistem yang positif. Jadi semua proyek pembangunan bisa jalan cepat.

***

Gotong royong…
Urunan…
Kebersamaan…
Kebersatuan…
Rame-rame dikerjain…
Ini kearifan lokal yang kita miliki sebagai bangsa…

Ribuan etnis dan suku menyatu dalam satu entitas bernama INDONESIA. Ini gokil level 12. Hanya bangsa ini yang bisa. Negara lain kebanyakan single entnis. Adapaun etnis lain dihitung imigran.

Kita ini kuat kalo bersama.
Kita ini hebat Kalo bareng.
Kita ini bisa Kalo rame-rame kerja.

Ya udah… yang gak mau donasi… ya silakan mendoakan.. ngeshare.. bantu likes… yang penting ada kerjasama. Jangan malah destruktif, melemahkan, bantuin nggak… malah melemahkan… kalo di zaman perang… ya sama aja bantuin tentara sekutu.

Yang mau donasi.. niatin sedekah keilmuwan.. sedekah narasi… niatkan membantu visi anak negeri… mobilnya untuk keilmuwan.. bisa di roadshowkan menjadi simbol kekuatan anak negeri… bukan milik SSN, komunitas lain mau roadshowkan.. tinggal kontak.. towing sendiri.. angkat sendiri… kami cuma atur jadwalnya.

ini wakaf kebangsaan. Maaf jika berlebihan. Tapi sejatinya.. nilai manfaatnya terus menerus ada. Fair juga kalo disebut wakaf.

Begitu ya….

Kita ini bangsa besar, yang jadi masalah, kita ini gak sadar besar. Itu penyakit singa tidur di hutan besar. Itu penyakit kita hari ini : GAK SADAR.

Kalo hari ini kita bisa urunan donasi bikin SELO. Besok-besok kita bisa urunan beli pesawat. Konon 700M untuk 1 pesawat 737-800. Udah diskon. Hehehehe….

700M itu cukup 1M 700 orang, atau 100 juta 7000 orang, atau 10 juta 70.000 orang. Selesai.

Anak negeri produktif nantinya ada 195 juta jiwa di 2030. Janganlah pesawat itu milik institusi finansial negeri lain, kita cuma bayar sewa 300rb-400rb dollar per bulan. 12 tahun kita bayar sewa pesawat, kayak nyewa rumah, rumahnya bukan punya kita. Cuma jadi uang hilang per bulan. ngelus dada

Kalo urunan 3M ini berhasil. Kedepan kita bisa urunan apa saja. Sudah ada e-money merah putih. Tinggal scan QR Code. Beres. Cukup kumpulin 50 juta anak negeri yang gendeng dalam 1 platform ekonomi kerakyatan.

50 jt x 1 juta itu 50T. 1 jutaan aja… kita bisa punya equity 50T… bisa bangun apa saja.

Semoga dimengerti.

Latihan dulu urunan bikin SELO.. dengan kekuatan kebersamaan… apakah terjadi atau tidak… Jawabannya ada di hati Anda….

Narator Bangsa,
Rendy Saputra

Ketik WA “Donasi SELO” kirim ke 0878 2595 5508

Leave a Comment