Bab 6 : Problem Engagement Strategy – Mindset Wajib Untuk Merubah Paint Point Menjadi Digital Opportunity

PAIN POINT dalam bahasa lebih sederhananya bisa diartikan sebagai PROBLEM atau MASALAH. Ya se simple itu MASALAH. Tidak mungkin kita bisa jauh dari masalah. Kurang duit masalah, dan kebanyakan duit juga bisa menimbulkan masalah. Punya kerjaan akan punya banyak masalah, apalagi yagn gak ada pekerjaan.

Masalah tak kenal usia, gender atau strata social. Prajurit kaya kita-kita punya banyak masalah, bos-bos apalagi malah buanyak masalahnya. Bahkan MOTIVATOR sekelas Mario Teguh yang super itu juga sepertinya butuh motivasi atas masalah yang dihadapi saat ini. Uppss…

Bab Selanjutnya : Nasehat Jack Ma Buat Mereka Yang Serius Membangun High Value Networking

Masalah tidak mungkin bisa dihindari dan dicegah. Cuman merubah mindset yang susahnya luar binasa. Tak terkecuali yang nulis ini juga berjuang menghadapi masalah. Beneran.. memang dari kecil kita harusnya juga belajar mengatakan “Alhamdulillaah” jika menemui masalah. Kalau perlu sujud syukur malah he he..becanda..

Sumpah masalah itu gak enak banget. Bikin makan tak enak, tidur tak nyenyak, sering ngelamun.

Ada insight menarik yang disampaikan oleh pakar mindset dunia Prof. Carol Dweck (Stanford University)..

Intinya seperti ini.. masalah adalah salah satu jalan Tuhan melimpahkan berkahnya pada kita. Bayangkan situasi berbeda, ketika Kalanick ketika di Paris tahun 2008 tidak menemui masalah dan lancar-lancar saja ketika mencari Taxi, dijamin tidak akan lahir yang namanya UBER.

Atau Nadhiem Makarim tidak melihat adanya masalah pada tukang ‘OJEK’ di Jakarta yang menghabiskan banyak waktu untuk mangkal. Tidak akan lahir yang namanya GOJEK.

Masalah Bukan Musuhmu, Tapi Sahabatmu, Rangkullah

 “GROWTH MINDSET” adalah “FIXED MIDSET

Masalah akan membuat kita tumbuh dan berkembang bahkan menjadi lebih kuat. Senada dengan coach Indra dan Bro Abie sampaikan, Profesor Dweck juga mengatakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari sebuah masalah yang sering menyusahkan kita.

Apakah itu artinya semakin banyak masalah akan membuat semakin kuat dan sukses? He he he ya nggak segampang itu juga.

Stress yang tidak terkendalikan dalam teori Neuroscience (ilmu tentang otak) bisa mengakibatkan ‘Amygdala’ (kapten-nya emosi di otak) mengambil alih kemudi dari Neocortex (kaptennya pikiran logis manusia).

Pinjam istilahnya Daniel Goleman, namanya “Amygdala Hijacked”. Jika Amygdala yang pegang kendali, maka keputusan-keputusan yang diambil oleh otak akan cenderung emosional dan ngawur. Dalam sebuah riset, Amygdala Hijacked ini mampu menurunkan IQ manusia 10-15 digit.

Itulah kenapa orang yang terkena tekanan yang besar tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

“GROWTH MINDSET” adalah “FIXED MIDSET 3

Namun sebaliknya, jika masalah-masalah yang dihadapi bisa terselesaian dengan tuntas, otak akan mereward nya dengan endorphine. Hormon yang akan membuat orang itu menjadi semakin tertantang. Karena neurons atau sel-sel dalam otak kita akan membuat koneksi-koneksi baru yang jauh lebih kuat.

Menurut Prof. Dweck, hanya orang dengan “GROWTH MINDSET” inilah yang mampu mengembangkan skill mereka dari masalah-masalah yang mereka hadapi. Growth Mindset adalah otak yang terus menerus memperbaiki dan memperkuat koneksinya setiap kali memecahkan puzzle ‘masalah’ yang ia hadapi.

Meskipun awalnya dia adalah orang yang bodoh, namun ia tumbuh dan berkembang sampai akhirnya ‘matang’ dalam menghadapi masalah. Ia tak takut lagi menghadapi masalah.

“GROWTH MINDSET” adalah “FIXED MIDSET 3

Lawan dari “GROWTH MINDSET” adalah “FIXED MIDSET”. Ini adalah tipikal orang yang menghindari masalah. Bukan berarti ia bodoh.. namun ia menganggap dirinya sudah pintar dan menganggap remeh setiap masalah. Meskipun begitu kecenderungannya ia alergi terhadap masalah. Tak pernah merasa ‘nyaman’ dengan hadirnya masalah.

Terus bagaimana nanti ceritanya orang bisa memiliki mindset yang GROWTH atau FIXED. Menurut Prof. Dweck kemampuan “PROBLEM ENGAGEMENT”nya lah yang akhirnya menentukan. Problem Engagement adalah sebuah kondisi dimana orang masih bisa tetap tenang, tetap ‘nyaman’ dan pantang menyerah mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalahnya. Bukan tipe orang yang cepat-cepat kabur jika ketemu masalah.

Kalau misalnya di scan otaknya dengan antara pemilik FIXED MINDSET dan GROWTH MINDSET terdapat perbedaan yang sangat signifikan.

Otak dari pemilik mindset yang kaku tidak akan ‘bereaksi banyak’ jika menemukan masalah. Karena ia tidak ‘engage’ dengan masalahnya dan segera kabur.

Sebaliknya otak pemilik Growth Mindset akan menjadi sangat aktif jika menemui masalah. Neocortexnya akan menjadi bos untuk membuat kombinasi-kombinasi baru sampai ia menemukan “AHA” moment yang menjadi solusi masalah yang dihadapi.

Kemudian apa bisa membantu setiap orang (wa bil khusus Entreprenuer dan Intraprenuer) bisa tetap nyaman dengan masalahnya?

  • Pertama, jika ia mendapat bimbingan langsung dari COACH yang mampu membimbing dan mengarahkan dia.

Bukan hanya memuji dan memberikan harapan-harapan kosong, namun COACH yang benar-benar mampu memberikan motivasi, semangat, dan arahan dari setiap strategi yang ia coba untuk menyelesaikan masalah. Coach yang mampu memberikan reward pada proses bukan hanya berorientasi pada hasil akhir semata.

Biasanya COACH memiilki ‘PROBLEM LIBRARY’ yang berisi koleksi-koleksi masalah dan penyelesaiannya, baik yang ia alami sendiri maupun dicoba orang lain. Ingat otak manusia memiliki kemampuan ‘meniru pola’ dengan mempelajari pola orang lain. Istilah ilmiahnya ‘MIRROR NEURONS’. Dengan demikian energy yang dihabiskan untuk memecahkan masalah menjadi lebih efisien karena tidak perlu mencoba pola-pola yang sudah terbukti gagal.

  • Kedua, komunitas dengan passion dan interest yang sama.

Ingat kata pepatah “More heads is better than one”. Inilah yang dinamakan dengan SOCIO LEARNING. Masalah yang kita hadapi mungkin saja sama. Namun perspektif yang berbeda-beda akan memberi banyak referensi ke otak yang mungkin awalnya tidak terpikirkan. Namanya inspirasi sering datang tiba-tiba dari arah yang tidak disangka-sangka he he.

Dengan demikian bukan hanya suntikan moril yang kita dapatkan karena disupport banyak teman.

  • Ketiga, Lingkungan yang mendukung

Ingat kata-kata Kurt Lewin, embahnya Psikologi Modern yang sering sy singgung2 di banyak tulisan Saya. “B= f(P,E) atau Behavior is a function of people and environment.”

Pikiran dan positif itu ditentukan oleh 2 hal, yang pertama faktor P (People) atau orangnya, yang kedua dalah faktor E (environment) atau lingkungannya. Dan yang paling menentukan ternyata faktor E. Tinggal disekeliling orang-orang yang positif akan menginduksi kita untuk memiliki pemikiran yang positif dan perilaku yang positif juga. Beruntunglah jika Anda diberkahi keluarga dan teman-teman kantor yang saling menguatkan ketika masing-masing ada masalah.

Sekian ya, mohon maaf kalo kepanjangan. Intinya jangan kapok dengan semua masalah yang kita hadapi. Apa yang kita rencanakan 99.999% berhasil pun ternyata masih bisa menemui masalah dan buyar semua rencana. Yang penting kita masih mau berdiri dan bangkit lagi. Halaahh…

Memang realita tak seindah kata-kata Mario Tekdung. Yang pasti akan ada masanya nanti kita bisa jeli mengkonversi PAIN POINT menjadi Opportunity bernilai tinggi.

Semoga sedikit ilmu hasil oprek-oprek ini bisa bermanfaat buat sahabat semua.

Regards
Saiful Islam

Leave a Comment