Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Menikahi Wanita Dari Keluara Broken Home  – Kumohon bacalah hingga selesai. Hingga bait terakhir. Karena ini sebuah rahasia, yang tak semua orang mau berbagi. Tak semua bisa berbagi. Tak semua sempat berbagi. Tulisan ini ditulis oleh : Andi Dara Atikha

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Beberapa kali, beberapa tahun yang lalu.
Masih hangat hingga sekarang. Entah saat makan, bersua dengan secangkir teh hijau hangat, atau menjelang tidur yang kadang membuat harus menarik selimut hingga ujung kepala. Memaksa tidur.

Acap kali pertanyaan itu kembali melintas. Adakah yang bisa mengatasi setiap trauma ini? memberi perhatian porsi khusus untuk jiwa yang tak terbiasa dengan kesempurnaan ini?

Jujur, untuk menjadi percaya diri ketika hendak dinikahi atau sedang ditaksir oleh seorang lelaki… adalah ketakutan tahap awal, langkah pertama. Rasa tak nyaman kembali. Terus memborok didalam perasaannya. Karena sungguh, segala apapun yang menyangkut hubungan cinta dengan lelaki, adalah hal terasing baginya. Ia ingin. Namun kalah oleh batinnya.

Ketika mendengar hal dimana ia akan dipinang, dinikahi lelaki yang baik agama dan indah akhlaknya, sejurus kemudian hatinya berontak. Takut dan khawatir, apakah keluarga yang akan ia arungi tidak bertahan seperti orang tuanya?

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Aku pernah bertanya hal ini, dua tahun lalu pada seorang wanita, seorang psikolog sekaligus seorang ibu dari 4 anak lucunya,

“Bu, Aku adalah anak dari keluarga yang tidak sempurna. Aku adalah anak dari broken home family. Bisakah aku menjadi remaja yang biasa saja? tumbuh menjadi gadis seperti yang lainnya? Bisakah ketika nanti aku menikah, aku menjadi ibu seperti kebanyakan? Bisakah aku menjadi istri yang taat dan yang terpenting bisakah aku tak cacat psikis dan tak menjadi stempel keluargaku yang tercerai berai, apakah keluargaku kelak akan baik-baik saja?”
Aku mengatakan hal ini lebih sederhana dari yang kutulis, lebih menyayat, bahkan aku sendiri tak bisa menahan tangis.

Maka ibu psikolog itu, dengan segala jiwa kasih dan bijaknya, jiwa-jiwa yang berpengalaman untuk segala hal kejiwaan, ia berkata lembut,
“Apa yang kamu takutkan? Ibumu adalah ibumu, ayahmu adalah ayahmu, orangtuamu adalah orangtuamu dan kamu tak harus memiliki takdir yang sama dengan mereka. Kamu adalah kamu. Kamu berhak mengukir kisahmu sendiri. Bersama mimpimu sendiri.”

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Air mataku menetes…

Ibu itu melanjutkan lagi,
“Ibu justru ingin berada di posisi itu, begini saja, temukan semua jawabanmu, untuk saat ini jadilah pemerhati yang baik, cermati segala hal, kamu tau? kamu, dan anak-anak sepertimu adalah anak-anak yang di spesialkan… Baik, temui Ibu jika kamu sudah tau dan ceritakan segala jawaban yang kau dapatkan selama itu. Ibu tunggu.”

Aku memeluk ibu paruh baya itu dengan tulus. Tekadku sudah membaja. Aku akan mencari jawabannya.

Hingga beberapa hari yang lalu aku memutuskan bertemu dengan beliau. Aku ingin menjawab pertanyaanku sendiri dan mencocokkan hasilnya dengan riset beliau.

Then you know what? Riset beliau lebih indah dari milikku, juga jawabanku.

“Atikha, kamu tau nak? justru wanita dari keluarga tidak sempurna adalah wanita yang bisa jadi terbaik dan terhebat. Ia terbiasa menjadi kuat dan takkan cengeng untuk hal-hal sepele baginya. Ia sudah terlatih tegar. Kamu pernah membaca tulisan dari Fahd Pahdepie?”

Aku menggeleng, lalu aku diberi tulisan dari Fahd tersebut dan membacanya perlahan,

“Ketika kau mengenal seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau baru saja bertemu dengan perempuan dengan kemampuan menghadapi persoalan di atas rata-rata. Ia tumbuh dengan perjuangan untuk selalu bisa tersenyum di hadapan semua orang, berusaha tampak biasa-biasa saja meskipun ada sesuatu yang menghantam-hantam dalam dirinya. Ia mungkin sering menangis, tetapi bukan untuk sesuatu yang remeh-temeh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi hal-hal sepele yang bisa ia atasi dengan cara dan usahanya sendiri. Ia menangisi sesuatu yang barangkali jika semua itu terjadi kepadamu, kau tak akan pernah bisa menahannya. Ia menangisi sebuah kehilangan.

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Apa yang hilang dari dirinya? Barangkali, masa kecil dan kebahagiaan yang semestinya mewarnai semua itu. Barangkali, rasa bangga yang tiba-tiba diruntuhkan oleh ketidakadilan yang entah mengapa harus menimpa dirinya.

Ia menyaksikan kehancuran rumah tangga orangtuanya pada usia yang terlalu muda. Barangkali, ia harus mendengarkan kekecewaan ibunya sendiri tentang ayah yang dicintainya. Barangkali, ia harus menerima kenyataan bahwa cinta bukan satu-satunya syarat untuk mempertahankan semuanya. Pada saat bersamaan, ia harus menutup telinga dari pembicaraan buruk orang-orang tentang keluarganya. Ia dipaksa nasib untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

Namun kedewasaan itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia selalu punya cara untuk terlihat biasa-biasa saja di tengah hal-hal buruk yang sedang dihadapinya. Ia tetap bisa tersenyum saat orang lain terlalu lemah untuk bersikap baik-baik saja. Bayangkan, ia membangun semua sistem pertahanan dan rasa percaya diri itu selama bertahun-tahun?

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Hari-hari pertama setelah kau menikahi perempuan itu, semuanya akan terasa mudah bagimu. Kau pikir, ia tak perlu banyak waktu untuk belajar menjadi istri yang baik buatmu. Ia begitu menghormatimu. Ia pandai menempatkan diri. Ia begitu pengertian dan penuh kasih. Meski mungkin kau tidak tahu bahwa sebenarnya ia menjalankan semua itu dengan penuh rasa takut dan khawatir.

Ia takut hal-hal buruk yang terjadi kepada orangtuanya terulang lagi kepada dirinya. Ia dihantui rasa khawatir untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa mengembalikan lagi kesedihan yang bertahun-tahun berusaha dikubur di kedalaman perasaannya. Ia menjaga semuanya untuk kebahagiaanmu, untuk kebahagiaannya sendiri, untuk kebahagiaan kalian berdua.

Bulan demi bulan berlalu, kau selalu terpesona dengan keterbukaannya tentang segala sesuatu. Ia terlatih untuk jujur pada dirinya sendiri, sehingga tak memiliki apapun lagi untuk dirahasiakan darimu. Ia bisa dengan mudah menceritakan hal-hal buruk yang pernah menimpanya atau kekurangan dirinya, ia menceritakan apapun tentang keluarganya, ia ingin kau melihat dan mencintainya apa adanya.

Barangkali, ia juga sering bersedih meski mungkin kau jarang mengetahuinya. Ia terbiasa menggigit bagian dalam bibir bawahnya saat kau menceritakan tentang keluargamu : ayahmu yang lucu, ibumu yang lugu, adik-adikmu yang nakal, atau tradisi liburan keluarga yang bertahun-tahun kau miliki dengan penuh kebahagiaan. Ada perasaan asing yang mengalir dalam dirinya ketika kau menceritakan semua itu. Rasa asing yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman, cemburu, marah, atau segala sesuatu di antara semua itu.

Menikahi Wanita Dari Keluarga Broken Home

Maka, ia mulai mencintai ibumu seperti ibunya sendiri, ia akan menghormati ayahmu seperti ayahnya sendiri, ia menjadikan keluargamu sebagai pelabuhan bagi semua mimpinya tentang rumah cinta dan tangga ke surga. Tahun-tahun berikutnya, ketika kalian dikaruniai anak-anak, ia akan selalu berusaha menjadi ibu yang sempurna bagi mereka.

Ia tak ingin, dan tak ingin, dan tak pernah ingin anak-anaknya, mengalami sesuatu yang sama yang pernah ia alami. Dalam daftar prioritas hidupnya, ia tulis hal-hal yang tak akan mengecewakanmu : cinta, kasih sayang, kejujuran, kesetiaan. Hal-hal yang dari semua itu ia letakkan fondasi untuk sesuatu yang kelak kalian akan sebut sebagai “rumah”, tempatmu bertolak sekaligus kembali, tempat kalian akan melewati semuanya bersama-sama.

Demikianlah, ketika kau menikahi seorang istri dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau telah menikahi seorang perempuan terbaik di dunia. Perempuan yang dengan segala ketidaksempurnaan yang dimilikinya, akan menyempurnakan segala sesuatu yang ada pada dirimu dan semua hal di sekelilingmu.

Ketika kau melihat seorang perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna, kau tengah melihat seorang perempuan hebat dengan seluruh keajaiban yang ada dalam hidupnya.”

Sontak tangis kedua setelah dua tahun yang lalu kutahan kembali kutunjukkan. Ibu itu menepuk pundakku dan berbisik,

“Apa atikha tak merasa sedang bercermin? Apa tak merasa bahwa kamulah perempuan hebat dan istimewa?”

Robbi…
Hari ini aku faham. Aku diciptakan tidak untuk disia-siakan.

Untukmu, wanita-wanita lain yang mengalami hal yang sama denganku, trust yourself! Aku bangga ada di barisan kalian.

Salam pertemanan,
@atikhaathiyyah

Leave a Comment