Step By Step : LifeStyle Para Triliyuner

Kebangkitan sebuah peradaban ketika Wakaf menjadi sudah booming dimana-mana. Barat sebagai pemimpin peradaban hari ini telah melaksanakan spirit yang menyerupai wakaf. Tengok saja orang-orang terkaya di muka bumi saat ini.

Mereka membuat produk lalu ‘digratiskan’ seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, berbagai marketplace dan platform digital yang kemudian dikapitalisasi. Sebagian besar keuntungannya misalnya Facebook, disalurkan untuk kepentingan sosial. Demikian juga Bill Gates dengan foundation miliknya. Benar-benar mirip dengan spirit wakaf.

Di Indonesia pun sama. Orang-orang sukses di negeri ini memiliki kemiripan satu dengan lainnya. Mereka memiliki yayasan sosial masing-masing dan sangat berdampak terlepas dari apapun agamanya.

Dari mulai grup Sampoerna dalam bidang pendidika, grup Djarum di dunia badminton, Aguan bos Agung Sedayu membantu membangun kuil Budha Tzu Chi, DAAI TV, rumah sakit serta sekolah. Tak sedikit pula uang yang di gelontorkannya. Rumah Sakit Siloam yang dibangun Grup Lippo pun menggunakan konsep wakaf produktif.

Chairul Tanjung membangun yayasan dan beberapa sekolah, demikian pula Ciputra dan bahkan trilyuner yang kini menjadi wakil Gubernur DKI mas Sandiaga Uno pun menyedekahkan seluruh gajinya. Kayaknya nggak ada trilyuner yang pelit dan mereka bukan ringan tangan saat kaya, tapi dibiasakan sejak tak punya apa-apa.

Dalam sebuah atsar dari Jabir bin Abdullah disebutkan bahwa “semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta melakukan wakaf, tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwarisi”.

Sebut saja misalnya Umar bin Khattab yang mewakafkan sebidang tanah miliknya di Khaibar, Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kurma Bairoha, Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi Thalib yang mewakafkan tanah Yanbu’, Zubair bin Awwam yang mewakafkan rumahnya, dan sahabat Rasulullah lainnya seperti Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Aisyah Ummul Mu’minin, Asma binti Abu Bakar, Saad bin Abi Waqas, Khalid bin Walid, Jabir bin Abdullah, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Amir, dan Abdullah bin Zubair.

Para sahabat sebagai generasi terbaik sepanjang zaman telah menjadikan wakaf bukan hanya sebagai karakter, tapi juga life style. Spirit yang mendorong mereka bukan sekadar ingin menjadi yang terbaik di dunia tapi terbaik di akhirat. Maka mereka seperti berlomba-lomba dalam berwakaf.

Saya amat meyakini, akan datang suatu masa dimana banyak orang-orang hebat berlomba-lomba mewakafkan hartanya berebut perhatian Allah. Berlomba-lomba mengerahkan segenap kemampuannya untuk menebar manfaat seluas-luasnya. Maka, ketika hal ini terjadi niscaya kebangkitan peradaban baru sudah di depan mata.

Lalu bagaimana dengan kita? Masih hanya sibuk urusi diri sendiri? Bukankah Allah yang jamin urusan kita saat kita membantu orang lain? Bukankah justru yang di sedekahkan menjadi bertumbuh dan berlipatganda? Hayuuuuk…mumpung di bulan mulia, semoga saja setiap hari kita bisa sisihkan harta kita untuk berbisnis dengan-Nya

Salam Kemakmuran bangsa!

Oleh : Ari Chandra Kurniawan

Leave a Comment