Step By Step : Rule Of Ten Thousand

Sejak pertengahan tahun 2017 saya memutuskan masuk kebisnis retail karena 2 tahun berjuang melawan BUMN ngak bisa menang. Ancuuuuk! Yo wis, cikar kanan, vaya con dios, cari laen.  Untuk itu nomor satu adalah saya melakukan konsolidasi internal ke anak usaha dan holding.

Membangun usaha bersama sejak tahun 96 maka puncaknya tahun 2017 saya konsolsidasi besar-besaran, membuat heran para mitra usaha dan pemegang saha, dan mereka mengerti. Bukan karena telah bersama lebih dari 22 tahun, namun ada yang mengenal saya lebih dari 35 tahun.

Yang jelas belajar dari dua sahabat saya yang masuk duluan ke dunia baru (baca : politik) maka mereka menggunakan “fronting” terhadap semua nama mereka di bidang usaha. Dan saya melakukan hal yang, saya bukan mau masuk politik, tetapi kerena menganti “corporate action” maka demi tidak bias, positioning juga harus di ubah. Saya juga memakai “fronting”.

Saya masuk retail dan di semua corporate up stream dan down stream industry saya harus keluar dari mengunakan nama saya atau posisi saya. Saya pakai fronting untuk hal itu. Banyak memo tentunya yang di buat, perlu lebih 6 bulan restruturing. Alhamdulilah selesai di awal tahun 2018.

Selagi divisi legal dan finance mengubah semua catatan konsolidasi baliknama, infomemo dan lain sebagainya saya mengambil tempat baru sebagai tempat brainstorming bisnis retail yang baru. Yang kami lakukan di sebuah apartemen di bilangan barito. Apartemen itu jadi warroom. Di tembok, kertas coret-coretan, flip cart, di kaca, di white board, semua tulisan. Argument di setiap kata dan paragraph.

Kalkulasi keuangan, projected income statement, data statistic, dan banyak lagi di bahas. Ini adalah pekerjaan masih kategori pra operasi. Belum  ada pegawai, namun tetap sudah ada biaya-biaya, kantor dan lain sebaginya termasuk biaya reseach.  Belum jualan, belum operasional. Masih pakai modal sendiri. Berat banget memang membangun usaha yang masih inkubator begini. Apa lagi sekali buka mau langsung go internasional ( niat boleh dong)

Semua selesai juga dalam 6 bulan yaitu juga di awal 2018, finalisasi, strategi bisnis operasional, organization chart, who do what, who get what, platform index prestasi, target pecapaian dan bagaimana mencapainya.

Bagi bisnis, yang namanya platform itu penting. Pondasi.

Atau begini deh biar sederhana memahami platform, kalau nih, sekali lagi “kalau” saya memegang mandat menjadi presiden , tuh khan?! kalimat ini langsung menjadi sumbu bagi cebonger serang saya karena tidak mungkin pak jokowi bisa atau pantas di gantikan oleh si sontoloyo yang banyak ngayal ini.

Yo wis, ambil dah tuh jabatan. Awas ya ngak amanah bawa rupiah di atas 15 ribu, ningkatin hutang keatas 6000 triliun dan naikin BBM dan listrik!.saya rakyat kecil pasti teriak kenceeng.

Saya akan punya platform sederhana kalau dapat mandat. Sik toh cebonger, baca samapi selesai. Nyolot saja kayak kita ngak boleh punya pondasi bekerja.

Kita akan buat platform yaitu hanya 2 hal. Rupiah jadi Rp 10.000 terhadap dolar amerika dan  GDP per capita jadi 10.000. platform ini namanya “mardigu’s rule of 10.000” . o iya, kalau mau ambil platform kita yang akan buat rupiah jadi 10.000 dan GDP per capita 10.000 ( dari 3.700 saat ini), silahkan.

Dengan 2 plaform tadi, seluruh kebijakan adalah menyokong tujuan ini. Jadi banyak program BUMN pasti saya tebas karena ngak akan buat indonesia jadi 10.000. setidaknya rupiah gak bakal jadi 10.000 kalau caranya seperti sekarang ini!

Mudah-mudahan dengan tulisan ini tergambarkan apa yang di maksud platform.

Urusan platform ini membawa saya ke google, kepengalaman mengunjungi kantor google. Dan ini sebagian sudah pernah saya tuliskan, saya ulangi sedikit boleh ya? . Mundur ke beberapa tahun silam.

Ditahun 2012 saya berkunjung ke markas Google South East Asia di Singapura dimana saya mendapatkan pecerahan dari para Googlers (sebutan untuk para awak Google) mengenai business model dan corporate culture Google yang selama ini hanya saya baca dari buku-buku mengenai Google.

Exciting sekali, karena business model dan corporate culture Google sangat unik dan breakthrough, berbeda sama sekali dengan perusahaan konvensional yang selama ini kita kenal di buku-buku teks manajemen.

Ada  beberapa “lessons-learned” yang saya peroleh dari Google.

I. Google selalu membangun Platform bukan hanya sekedar “Product”

Google bukanlah sekedar produk; tapi ”platform”. Seperti halnya Facebook, eBay, atau Foursquare, Google menawarkan platform yang memungkinkan konsumen membangun produk, bisnis, komunitas, dan network. Jika Anda menawarkan platform, maka Anda tidak berbisnis sendirian, tapi ditopang oleh para konsumen Anda melalui hubungan bisnis win-win yang saling menguatkan. Semakin si konsumen berkembang bisnisnya, maka semakin berkembang pula bisnis pemilik platform.

Google punya banyak platform: Blogger untuk penerbitan konten; Google Docs untuk office collaboration; YouTube untuk video sharing; Picasa untuk photo sharing; Google Group untuk komunitas; atau Google AdSense untuk berbisnis via online ads.

Ambil contoh Blogger yang diperoleh Google melalui akuisisi. Blogger merupakan sebuah platform karena memberikan “wadah” bagi para bloggers untuk memproduksi dan mempublikasikan konten yang mereka miliki. Dari blog yang dibangun di Blogger.com para blogger meng-create value melalui konten-konten menarik yang mereka publikasikan; yang kemudian bisa mendatangkan massa pembaca dan pengiklan. Menariknya, ketika para blogger tersebut create value, maka dengan sendirinya mereka akan add value ke platform Blogger.com.

Jadi, semakin besar value diciptakan oleh si konsumen, maka semakin besar pula value yang ditambahkan oleh si konsumen tersebut kepada platformnya. Inilah hebatnya platform, Anda akan bekerja bersama-sama dengan si konsumen untuk membesarkan platform tersebut.

II. Google tidak pernah mengendalikan sumber resource, pasti di buka dan di distibusikan

Teori bisnis sebelumnya mengatakan: “Kuasailah sumber daya terbatas dan krusial (di bidang produksi, distribusi, marketing, paten, dsb.), maka Anda akan menuai keuntungan premium sesuai dengan hukum supply & demand.

Google justru berpikir sebaliknya. Alih-alih menguasai dan mengontrol produksi, distribusi, pemasaran, atau paten; Google justru sejauh mungkin menyerahkan ke pihak lain untuk kemudian diajak berkolaborasi. Umumnya perusahaan menggunakan logika “scarcity economy”; Google menggunakan logika “abundance economy”.

Ambil contoh Google AdSense. AdSense merupakan platform untuk “mendistribusikan” bisnis iklan Google ke para pemilik blog atau website di manapun di internet. Jadi Google tidak rakus memakan bisnis iklannya sendiri, tapi mengajak “distributor’-nya yaitu para pemiliki blog dan website untuk berkolaborasi menciptakan dan membagun bisnis secara bersama-sama. Tak heran jika pemilik blog dan website tersebut kemudian menjadi evangelist fanatik bagi Google.

II. Google selalu improve dan melibatkan pelanggan

Hampir semua produk yang dibikin Google meluncur dengan label “Beta”. Versi Beta berarti produk tersebut masih dalam proses testing dan eksperimen; masih dalam proses perbaikan; atau masih dalam proses penyempurnaan. Cara seperti ini bertentangan denga conventional wisdom yang berlaku sebelumnya, bahwa produk harus sempurna begitu meluncur di pasar.

Inilah cara Google untuk mengatakan kepada konsumennya: “Kami memang masih jauh dari sempurna; marilah kita sempurnakan bersama-sama.” Itulah cara Google untuk melibatkan konsumen menyempurnakan produk. Harus diingat, konsumen lah yang paling tahu apa kebutuhannya; karena itu konsumen lah yang paling layak menyempurnakan produk yang dibutuhkannya

Akhirnya di luncurkan bahwa platform yang kita luncurkan adalah cryptoasset bernama CYRONIUM. Produk ini banyak yang harus di sempurnakan, di bangun oleh saran para pelanggan seperti platfiorm ggogle. Pembeli cyronium, kompetitor cyronium, semua mencari kelemahan cyronium dan dengan hal semua itulah cyronium menjadi sempurna.

Para sahabat,  teruslah berikan kritik saran kepada cyronium, karena dengan begitu kita bisa menjadi platform yang kuat. Kami mengajak siapapun bergabung.

Hal-hal yang kecil membawa kesempurnaan, tetapi sungguh kesempurnaan itu bukan hal yang kecil @manaplatformukmnya? #peace

Mardigu Wowiek

Leave a Comment